Sastra

Kulit Ayam Kesukaan Bimo

 Aku adalah seorang janda yang ditinggal suami karena wanita lain. Mantan suamiku pergi entah kemana. Kami juga belum dikaruniai anak. Dengan sisa tabungan yang kukumpulkan, aku mencari peruntungan dengan membuka gerai fried chicken kecil di rumahku. Tidak begitu ramai yang membeli karena tempat tinggalku ada di dekat  gang kecil dan hanya sedikit orang atau kendaraan yang lewat. Suatu hari, datanglah seorang bapak dengan anaknya. Mereka hendak membeli ayam daganganku. Si anak mengamuk ingin dibelikan kulit ayam sedangkan sang bapak tidak menghiraukan anaknya. Lantas, sang anak merengek dan rengekannya semakin lama semakin parah.

“Pakkkk, bi bimoo mauuu kulit ituu arghh bapakk mahhh bimo mau” Ujar sang anak sambil menarik kaos bapaknya yang bergambar “Jokowi”.

“Bimoo udah yaa, uangnya cuman cukup beli paha sama dada buat kita makan nanti. Udah jangan ngamuk kamuu!!”  Bentak sang bapak.

“Pakkkk, bimo mau ayam bimo mau ayamm bimo mau kulit kulit ayamm bimo mauuuuu!!”  Teriak bimo sembari ingin menangis.

“Kamu bisa diem gaa!! Kalau kamu masih ngeyel, ga usah makan sekalian!!” Tegur sang bapak.

Aku semakin kasihan melihatnya. Mungkin sang anak sedang ingin mencicipi kulit ayam daganganku. Dari pakaian dan perilaku mereka, sepertinya mereka adalah kelas menengah kebawah sama sepertiku. Emosi anak itu tidak kunjung mereda. Karena aku kasihan dengannya, akhirnya aku memberikan kulit ayam secara cuma-cuma.

“Nih, udah yaa anak maniss, ini kulit ayamnya, kamu jangan nangis terus, semoga kamu suka ya” Ujarku dengan halus sembari menyodorkan kulit ayamnya.

“I ibu makasih ya ibuu, bimo ga nangis lagi kok, bi bimo suka banget ibu baik deh” Kata anak itu sambil sedikit terisak-isak dan mengelap air mata dan ingusnya.

“Iyaa dekk sama-sama” Balasku sembari mengusap kepalanya.

Sang bapak terlihat malu dan nampak ingin membayar dengan sisa uangnya yang sedikit. Namun aku menolaknya.

“Gausa mass gapapaa makasihh, kebetulan dagangan saya hari ini lumayan rame kok” Ujarku menenangkan si bapak.

“Aduh maaf banget yaa mba, dia emang nyebelin kalau lagi pengen sesuatu, jujur saya emang agak kewalahan ngurus dia sendiri. Istri saya meninggal seminggu yang lalu dan butuh waktu adaptasi bagi saya untuk mengurus anak saya sendirian” Curhat sang bapak dengan wajah tidak enakannya.

“Wajar kok mas namanya juga anak-anak hehe” Jawabku.

Setelah itu, mereka beranjak pergi dari geraiku. Nampak senyum yang berbinar di wajahnya melihat remahan kulit ayam yang kubuat seolah dia adalah anak yang paling bahagia di dunia. Saat aku membersihkan gerobak ayamku dari remah dan minyak yang berantakan, aku melihat dari kejauhan sang anak dimarahi bapaknya atas sikapnya tadi kepadaku. Aku sontak kaget ketika bapak itu menjewer anaknya. Nama anak itu bimo. Perawakannya gempal, botak dan lumayan tinggi untuk anak sd kelas 2/3.

Dia adalah “anak spesial”. DIlihat dari struktur wajah, cara ia mengamuk dan bertutur kata. Tapi sepertinya ia mempunyai pribadi yang menyenangkan. Dengan keadaannya yang ditinggal ibu di usia dini serta perlakuan bapaknya yang agak kasar terhadapnya, aku sedikit bisa merasakan apa yang ia rasakan. Aku jadi makin kasihan dengannya. Apalagi dengan segala keadaan yang menerpanya, dia adalah anak yang mudah bersyukur dan bahagia dengan hal-hal kecil di sekitarnya termasuk kulit ayamku. Entah kenapa semenjak bertemu dia siang tadi, aku terus memikirkannya sepanjang hari sampai larut malam. Aku yakin dia punya pribadi  yang baik dan menyenangkan.

Keesokan harinya, aku kembali melakukan rutinitasku. Yapp, berdagang di gerai fried chicken ku tentunya. Siang harinya, ketika aku membeli stok minyak dan beberapa bahan di minimarket di luar gang, aku melewati lapangan kecil. Di sana, ada beberapa anak yang sedang bermain bola sehabis pulang sekolah dengan sepeda mereka yang terparkir di sudut saung lapangan. Tidak cukup luas untuk orang dewasa tapi cukup luas untuk anak-anak. Di antara mereka, sepertinya aku tidak asing dengan salah satu anak di sana. Iyapp, bimo ada di antara mereka. Aku melihat dari seberang lapangan bimo sepertinya sedang dipermainkan oleh mereka. Bimo tidak diberi bola dan selalu dikerjai temannya. Mereka terus meledek bimo dengan kata yang kurang didengar untuk seumuran bocah sd. Bimo hanya tersenyum sumringah.

“Woy bemo!!, sini rebut bolanya, katanya mau jadi ronaldo ahahahaha” ujar mereka. Aku hanya bisa menghela nafas ketika mendengarnya.

Mereka terus mempermainkan dan mengejek bimo yang menjadi pusat objek bully an anak-anak itu. Ketika aku hendak melangkah pergi kembali ke gerai, aku melihat beberapa anak yang mulai menendang dan melempar bola itu ke arah bimo. Panik, aku langsung lari ke arah mereka dan memarahi anak-anak nakal itu.

“Heh!!, apa-apaan ini? Kalian ga boleh gitu tau ga!” Tegurku sambil memeluk bimo yang menangis.

Seketika mereka diam, namun aku tahu betul mereka ini adalah anak-anak yang keras kepala. Mereka masih saja tertawa kecil sembari melihat bimo yang mewek di dekapanku.

“Udah sono pulang!!! Dasar bocah bandel!!! Kalian nanti saya aduin yaa ke ibu kalian kalau macem-macem sama dia!!” Bentak ku dengan suara lantang.

Mereka panik dan seketika langsung kabur dan pergi dari lapangan. Bimo nampak terlihat lega. Ia menatapku dengan sayu sembari tersenyum lebar. Ya tuhan, betapa manisnya anak ini.

“Bimo gapapa? ya ampun, kamu jangan main lagi deh sama mereka. Mereka jahat sama kamu. Ayo bu retno anter kamu pulang” sembari menggandeng tangan gempalnya.

“Bu, aku laper hehehe, mau kulit ayam lagi boleh ga?” tanya bimo disertai bunyi perutnya yang keroncongan.

Awalnya aku bingung harus menjawab apa. Tajam juga ingatannya. Tapi sepertinya Bimo sedang lapar. Lagipula, aku juga sekarang hidup sendirian dan mungkin Bimo bisa menemaniku sebentar mengisi kesepianku ini.

“Yaudah ayo ikut bu Retno ke kios. Nanti disana Bimo makan kulit ayam Kesukaan Bimo!!” ujarku dengan antusias.

“Yeayyyyy asiikkkk makan ayamm makan kulit yeyeyeyeyeyeeyyy!!!” sorak bimo kegirangan.

Aku beranjak dari lapangan menuju kiosku bersama bimo. Tangis yang ia alami karena ulah temannya bisa cepat berubah menjadi senyuman yang menggemaskan karena kulit ayamku. Seragam sekolahnya yang kotor dan agak kekecilan tak jadi masalah untuknya. Sepanjang jalan, ia selalu bercerita bagaimana ia di sekolah. Di mana, Ia selalu dikucilkan karena “berbeda” dari anak-anak lain. Ia selalu menyendiri di kelas sambil menggambar karakter anime kesukaan nya. Ia juga cerita betapa galaknya sang bapak. Kerap kali ia dimarahi dan dibentak karena kesalahan dan hal-hal kecil yang ia lakukan. Bahkan, bapaknya pernah memukul Bimo karena Bimo memecahkan piring berharga milik mendiang sang ibu. Tak jarang, bapaknya lebih sering menelantarkan dia dan tak acuh dengan Bimo.

Semua cerita itu aku dapatkan dari Bimo sepanjang perjalanan ke kios. Ia terus bercerita. Dengan sisa tenagaku yang lumayan lelah karena berjalan kaki, aku berusaha meladeni Bimo. Aku tahu betul rasanya jadi Bimo. Tidak memiliki teman dan figur bapak yang peduli membuatnya jadi bertindak impulsif. Tentunya butuh waktu yang agak lama untuk memahami maksud Bimo. Dengan segala keterbatasan dan kondisi yang ia alami, wajar saja kalau dia tidak bisa merangkai kata dan bercerita dengan baik. Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Justru, menurutku dia adalah orang yang cukup cerdas untuk ukuran anak yang memiliki kondisi “unik” seusia dia.

Sesampainya di kios, Bimo langsung meloncat kegirangan. Ia langsung melihat etalase gerobak kaca ku yang dipenuhi kulit ayam dan ayam lainnya yang masih hangat. Aku mulai menyiapkan tepung, minyak dan sisa stok ayam yang akan diolah dan digoreng.

“Bimo, bu Retno bikin ayam dulu yaa buat dagangan sama buat Bimo. Bimo tunggu sebentar yaa, nanti kita ngobrol lagi.” Ucapku sambil tersenyum.

“Bikin ayam? Aku boleh bantu ga bu? Aku suka sukaaa banget ayam nyam nyam nyamm!!” tanya Bimo dengan antusias.

Aku kaget mendengarnya. Dengan senang hati aku mengizinkannya. Aku mengajarkan Bimo bagaimana membuat fried chicken dari cara, merendam bumbu, mencampurkan ayam dengan adonan tepung, hingga menggorengnya. Ia sepertinya adalah pembelajar yang baik walaupun kadang dia beberapa kali menumpahkan adonan dan menjatuhkan plastik serta penjepit ayamku, aku bisa memaklumi kecerobohan kecilnya. Hal yang aku sadari adalah, setiap kali ia melakukan kesalahan, wajah riangnya itu langsung berubah cepat menjadi panik. Mungkin karena bapaknya yang seringkali memarahinya, ia juga bersikap demikian kepadaku. Tapi aku tak masalah, aku hanya mengelus kepala cepaknya dan berkata; “Lain kali lebih hati-hati yaa Bimo.”

Semua ayam sudah matang dan siap disajikan. Aku menyajikan ayam-ayamku di display dengan lampu kuning didalamnya yang agak remang. Sedangkan Bimo terlihat berkeringat dan lelah usai membantuku. Aku membeli Air mineral di warung untuknya. Ia langsung meminumnya dengan banyak sehingga yang tadi airnya masih penuh menjadi sisa setengah. Belum sempat aku mengingatkan Bimo untuk pelan-pelan ketika minum, ia sudah tersedak duluan. Aku menepuk punggung nya yang lebar diiringi batuk sisa sedakannya. Setelah itu, aku menyiapkan satu bungkus nasi, ayam dan kulit untuk Bimo. Porsinya aku lebihkan sebagai tanda terimakasih karena sudah membantuku. Bimo makan dengan lahap dan aku mengingatkannya untuk jangan terburu-buru kalau makan supaya tidak tersedak lagi.

Rasanya menyenangkan sekali melihat Bimo makan dengan lahap. Aku juga senang dapat kenal dengan anak manis ini. Pribadinya begitu hangat, menyenangkan dan sulit ditebak. Ia terus memuji ayamku. Terutama bagian kulitnya yang sangat ia sukai.

“Bu Retno kulitnya enakk Bimo suka, Bimo kapan-kapan mau bantu Bu Retno lagi boleh ga?” tanya Bimo dengan senyumannya yang lebar

“Boleh dong, eh iya Bim, udah mau sore nih, kamu pulang dulu yaa. Nanti orang tua kamu nyariin loh. Ayo bu Retno antar pulang sekarang.” kataku dengan nada agak tidak enak.

Bimo hanya murung dengan ekspresi yang sedikit gusar. Aku mencoba untuk membujuknya dengan lemah lembut. Awalnya ia enggan beranjak. Namun aku meyakinkannya kalau Ia (Bimo) dapat berkunjung ke kios ku kapanpun dia mau. Tentunya selama kios ku masih buka. Ia akhirnya bersedia untuk pulang.

Semenjak hari itu, entah kenapa ada sesuatu yang seolah “terisi” di hatiku. Ajaib sekali anak ini. Aku tak sadar kalau aku memang se kesepian itu. Kehadiran Bimo tentu membuatku senang. Apalagi, kios daganganku menjadi ramai. Meskipun memang pada kenyataannya, ia juga sulit untuk dimengerti bagi orang yang “awam” untukku. Ia juga sulit ditebak dan hiperaktif kalau aku bisa bilang. Seolah ia hadir sebagai simfoni indah dikala kesunyian hidupku sebagai janda muda.

Dari aku pulang ke rumah, membersihkan diri, menghitung jumlah uang yang didapat hari ini hingga menjelang tidur, aku tak bisa berhenti mengingat momenku dengan Bimo tadi. Bagaimanapun juga, aku tak bisa bohong kalau dia sangat menggemaskan. Tapi tak apalah, dia juga punya kehidupan sendiri bersama bapaknya. Aku tak mau kehadiranku menjadi hal yang tak mengenakan diantara mereka. 

Tapi siapa yang tak memikirkan itu? Yapp, aku terus memikirkan Bimo semalaman penuh. Apakah dia nyaman di rumahnya? Apakah dia bisa melawan kalau ia di rundung? Apa yang orang lain pikirkan tentangnya? Itu terus menghantui malamku.

Untuk beberapa hari selanjutnya, sehabis pulang sekolah, Bimo seringkali mampir sekitar jam 12 sampai 1 siang. Seringkali ia datang berlari dengan baju sekolahnya yang berkeringat karena teriknya matahari.

“Bu Enooooo” panggilan darinya untukku. Disusul senyuman hangat dariku

Kadang dia ke kios ku dengan keadaan senang, murung, sedih. Seringkali ia agak ngos-ngosan karena excited dan lelah berlarian di tengah panas menuju kios. Muka gembulnya yang memerah karena kepanasan seringkali membuatku tertawa kecil. Aku selalu menyiapkan air mineral dan juga mengingatkannya untuk minum dengan perlahan, jangan terburu-buru agar tidak tersedak.

Aku selalu menawarkannya makan nasi dan ayamku (dengan kulit favoritnya secara cuma-cuma tentunya). Kadang ia mau makan, kadang juga tidak. Ntah tidaknya itu karena sudah makan atau tidak selera makan, yang jelas anak seperti Bimo ini takkan berbohong jika ia mau/tidak mau.

Bimo selalu berinisiatif membantuku jualan mulai dari melayani pembeli dengan gaya khasnya, menyiapkan ayam ketika aku sedang menunggu ayam lain yang digoreng, Mengambil alat dan bahan jika tanganku terasa penuh atau kotor dan masih banyak lagi. Anak ini sungguh pintar dan baik. Ia selalu tersenyum dan tidak merasa direpotkan. Padahal aku sebisa mungkin untuk tidak melibatkannya dalam hal daganganku. Kehadirannya saja sudah membuatku lebih semangat untuk berjualan fried chicken ini dan tentunya ia habis pulang sekolah. Tentu energi yang dikeluarkannya banyak. Tapi siapa sangka justru Bimo terus memaksaku untuk membiarkannya membantu dan aku tentunya tak bisa banyak berargumen dengannya. Aku takut itu membuatnya sakit hati dan ngamuk. Semakin hari ia jadi semakin betah di kios ku. 

Di sela-sela menunggu pembeli, kami biasanya terlibat percakapan kecil. Aku selalu menanyakan keadaan Bimo baik ketika dirumah maupun di sekolah. Aku juga menanyakan hobinya, apa makanan yang dia suka, apakah ia punya teman dekat, bagaimana hubungan ia dengan bapaknya. Tentunya tidak semua pertanyaan itu aku langsung tanyakan secara beruntun kepadanya. Butuh penyesuaian sekaligus waktu untuk mencari tahu semua itu.

Dengan wajah lugunya, kata-katanya yang lugas dengan perbendaharaan kata yang terbatas, aku bisa menyimpulkan berbagai hal tentangnya termasuk jawaban darinya atas pertanyaan-pertanyaanku tadi:

Bimo sejatinya adalah anak yang kesepian. Ia tak mendapatkan kasih sayang dari sang bapak semenjak ibunya meninggal dunia. Bapaknya seringkali memarahinya dengan alasan yang tidak jelas. Oleh sebab itulah Bimo tak begitu betah dirumah. Ia mencoba bersosialisasi dengan teman sekolahnya. Tapi, temannya justru menjadikannya sasaran perundungan atas tingkah lakunya. Bimo sebenarnya takut akan hal itu tapi dia lebih memilih untuk diam. Aku sendiri tidak tahu kenapa Bimo diam saja atas apa yang temannya perbuat kepadanya. Menurutku, mungkin karena ia pikir, ialah orang yang paling ‘dibenci” di dunia ini sehingga ia merasa bahwa tak ada satupun yang mengerti dan dapat membantunya.

Tak kalah, Bimo juga banyak bertanya kepadaku. Apakah aku punya anak? Jika iya, apakah anakku seumuran dengannya? Dimana ayahnya? Kenapa masakanku bisa seenak ini? Tapi aku hanya tersenyum dan menjawab dengan sederhana.

Mari kita berpindah sejenak ke hal yang lebih menyenangkan. Ternyata dibalik semua itu, Bimo memiliki hobi menggambar. Sebuah hal yang mengagumkan dan makanan yang ia sukai saat ini yang tak lain tak bukan adalah kulit ayamku. Tapi sekarang aku sadar, sering makan ayam dan kulit untuk anak seusianya itu tidaklah baik. Jadinya aku berusaha membatasi porsi dan waktu makannya. Tentu hal ini sangat amat sulit dimana Bimo itu anaknya lumayan keras kepala. Tapi syukurlah aku tetap bisa membuatnya nurut. Aku merasa lega ia mengerti. 

Dan, seringkali kecerobohannya dilakukan mulai dari yang kecil hingga yang lumayan parah. Kalau menumpahkan adonan, menjatuhkan peralatan mungkin masih bisa ku tolerir. Tapi di saat yang sama, ia dengan sengaja memasukan tangannya ke minyak panas yang menggoreng ayam-ayamku. Apalagi minyak dan api kompornya saat itu lumayan besar sehingga tangan dan jarinya melepuh. Aku saat itu sedang melayani pembeli yang memesan 2 paha dan 1 dada. Sontak aku langsung meraih Bimo yang menangis keras karena kena panas. Aku langsung mengobati tangannya.

Pembeliku menganggap kami ini adalah ibu dan anak. Mungkin mereka menganggapku single parent karena hubunganku dengan Bimo. Tak sedikit juga gosip tak enak menyebar dari mulut ke mulut dari tetangga terkait aku dan Bimo. 

“Bu Retno ngapain sih deket sama anak kek dia” 

“Bimo kabur-kaburan mulu dari bapaknya” 

“Curiga saya mah Bu retno lagi mau deketin bapaknya Bimo tapi jadiin Bimo sebagai perantara” 

Semua ucapan itu ku dengar. Sebenarnya sungguh menyakitkan. Namun apa daya? Aku hanyalah seorang janda kesepian yang secara kebetulan bertemu anak “spesial” yang baik hati nan menggemaskan.

Seperti yang sering aku bilang. Kehadiran Bimo memberikan warna baru dalam hidupku. Rasa sakitku ditinggal mantan suamiku bertransformasi menjadi rasa kasih dan sayang untuk Bimo. Aku juga belajar banyak hal darinya. Mungkin saja cobaan dan hidup yang ia alami sama beratnya denganku atau bahkan lebih. Apakah Bimo juga berpikir hal yang sama seperti aku memikirkan betapa beruntungnya diriku bertemu dia? Aku tak tau pasti. Tapi seiring berjalannya waktu, kami seperti sebuah sistem yang menyatu. Sebuah ikatan yang saling menguatkan satu sama lain.

Pada suatu hari, seperti biasa Bimo datang ke kios ku pada siang hari dengan tas nya yang sudah setengah robek. Kali ini dia sangat anteng. Tidak seperti biasanya. Bimo sepertinya sedang mengerjakan tugas sekolah dengan serius. Aku tak mau mengganggunya. Sehabis aku melayani 3 gadis remaja yang memesan 3 paket nasi + dada, Bimo mencolek pinggangku dan menunjukkan sesuatu di kertas ukuran A4 yang ia bawa.

Ia menggambar dirinya dan diriku dengan bentuk sketsa yang begitu indah. Di gambar itu, aku memeluknya di meja makan yang dipenuhi nasi, ayam dan kulit favoritnya. Dengan latar rumah yang mewah, dengan raut senyum dan bahagia di wajah kami pada gambar itu. Aku yakin, ia akan menjadi seniman terkenal pada suatu saat nanti. Senyuman bangga di wajahnya membuatku terharu. Aku langsung memeluknya erat. Disaat kami berpelukan, Bimo mengucapkan kata-kata sederhana namun sungguh, itu adalah kata yang paling tulus. Bahkan lebih tulus melebihi orang dewasa seperti mantan suamiku yang dulu meyakinkanku untuk menikah dengannya.

“Bu Retno, tetep sama Bimo terus yaa. Bu Retno mirip banget sama Ibu aku. Ibu jangan pergi, Bimo takut, Bimo akan nurut kata bu Retno Bimo janji akan bantu ibu terus, bikin ibu senang supaya ibu juga ga kesepian.”

Oh tuhan. Walaupun aku belum dikaruniai anak, tapi sungguh dahsyat kuasamu. Aku semakin merasa Bimo itu datang kepadaku bukan hanya sekedar menemani sepiku. Aku tak tahu harus membalas ucapan Bimo. Yang jelas, tangis haru langsung menyelimuti kami. Aku berjanji akan selalu ada untuk Bimo. Walaupun ia bukan darah dan dagingku, Bimo sudah ku anggap sebagai anakku sendiri.

Tak lama berselang, ayah Bimo datang. Kali ini, ia nampak marah karena anaknya seringkali keluyuran dan pulang sore. 

“BIMO!! PULANG SEKARANG!! KAMU TUH YAA NYARI MASALAH MULU TAU GA?!!”  Bentak ayah Bimo.

“Ngga Bimo gamau pulang, Bimo mau sama Bu Retno, Bu Retno baik sama Bimo ga kayak bapak marah-marah mulu!!  Balas Bimo sambil bersembunyi di balik punggungku.

Sungguh situasi yang amat sangat tidak mengenakan. Aku bingung harus bersikap apa. Laki-laki saja sering meninggikan ego nya ke perempuan apalagi ini? laki-laki dengan laki-laki. Wajahku memucat, tubuhku mematung saat bimo terus menggenggam rok ku. Sepertinya ia benar-benar tak ingin pulang kerumah.

“DASAR KURANG AJAR KAMU!!, ANAK GATAU DIUNTUNG, BISA-BISANYA KAMU SEKARANG KURANG AJAR SAMA BAPAK!!! UDAH BERANI KAMU YA SEKARANG NGELAWAN ORANG TUA!! AYO PULANG!! JANGAN KELAYAPAN MULUUUU!!!!!!”  Bentak bapaknya sambil meraih tangan Bimo.

Aku bingung. Apakah aku harus menahan Bimo? Atau membantu bapaknya untuk memulangkan Bimo? Tak sempat aku berfikir, Bapak bimo sudah terlebih dahulu meraih tangan anaknya. Bimo berteriak sejadi-jadinya. Sang bapak tanpa pikir panjang terus menyeret Bimo yang semakin lama semakin memberontak ngamuk.

“Ibuuuu Bimo gamau pulang gamau pulang buuu gamauuuu!!! Pokoknya gamauuu AAAAAA!!!  Teriak Bimo.

Keributan di kios ku seketika mengundang tetangga yang melihat kami bertiga. Beberapa dari mereka ada yang hanya memperhatikan, ada yang membantu Bimo dan sisanya bertanya kepadaku apa yang sebenarnya terjadi.

Aku menangis sesegukan. Aku merasa gagal. Aku tak menghiraukan pertanyaan mereka. Ada bu Khotamah yaitu tetanggaku yang memberiku air mineral untuk ku minum. Mereka akhirnya mengerti kalau aku butuh menenangkan diriku. Hatiku hancur sehancur-hancurnya. Aku merasa gagal melindungi Bimo. Banyak ibu-ibu yang menenangkanku saat itu.

Lantas? Bagaimana dengan Bimo? Bimo berusaha ditenangkan oleh orang sekitar. Terakhir ku lihat. Bimo sudah di papah pulang setelah pak mansyur (tetanggaku juga) melantunkan beberapa doa agar Bimo lebih tenang. Sepertinya cara itu berhasil. Entahlah. Aku juga tak memperhatikannya lagi. Energi ku habis. Sungguh melelahkan rasanya hari ini.

Tak sedikit juga yang tak suka dengan kelakuan ayah Bimo. Semenjak istrinya meninggal, ia lebih sering mabuk-mabukan. Ia juga hidup melarat dan tertutup. Bahkan ada yang bilang juga kalau dia kecanduan judi online dan semacamnya. Yang jelas, aku bisa menyimpulkan kalau ia bukanlah figur ayah yang baik untuk Bimo. 

3 hari berlalu semenjak Bimo dimarahi bapaknya di kios ku. 3 hari inilah aku berdagang seperti biasanya. Yap. Tanpa Bimo. Setengah dari jiwaku rasanya hilang. Tapi apa boleh buat, aku juga bukan orang tua kandungnya toh? Sepertinya aku memang ditakdirkan untuk hidup sendiri. Tapi satu hal, aku akan terus mendoakan Bimo dan aku yakin dia adalah anak laki-laki yang tangguh.

Kios ku hari ini lumayan sepi. Tidak seperti hari-hari kemarin. Banyak stok kulit yang masih belum terbeli. Mungkin beda cerita kalau ada Bimo hehehe. Untungnya pendapatan hari ini masih cukup untuk diriku. Hari sudah menjelang maghrib. Aku segera membereskan kios ku. Aku juga berencana membeli stok tepung tapi sayangnya minimarket depan gang sudah tutup lebih awal entah kenapa. Aku memutuskan untuk berjalan agak jauh ke toko agen RT sebelah. Kurang lebih 1,5 km dari minimarket tutup itu.

Setelah mampir ke toko agen untuk membeli tepung dan beberapa kebutuhan lainnya. Aku bergegas pulang kerumah. Di jalan, hawanya sangat sepi. Jalanan becek karena tadi sore hujannya lumayan deras. Udaranya juga cukup dingin. 

Sesampainya di persimpangan gang, ada seorang pria yang berjalan ke arahku. Ia sepertinya sedang mabuk. Dari tampangnya yang senga bak preman, tindik di telinganya yang panjang serta rambut warna coklat nya yang kaku seperti tidak keramas selama 1 minggu membuatku agak was-was. Dan benar saja. Tak salah lagi. Pria ini ingin macam-macam denganku.

“Halo mba!! Sendirian aja nih”  Ia memanggilku dengan tatapan tengil.

Aku tak menghiraukannya. Aku bersikap seolah-olah dia tak ada di sebelahku. Tapi si brengsek ini terus menggodaku. Semakin lama semakin terlihat perangai buruknya.

“Wanita cantik kayak mbak gini ga pantes sendirian di jalan, bahaya tau ga? Mending sama saya sini, saya mah baik kok” Ujarnya sambil berjalan mundur mengikuti ku.

Aku hanya tersenyum kecil. Aku takut untuk bersuara. Aku lebih baik diam. Siall!! Dia terus mengikutiku. Kenapa jalanan ini begitu sepi ya tuhan.

“Ehh, diem aja mba, sombong banget sama saya, udah deh ga usah sok jual mahal. Suami lu mana? Ga punya suami?”  Pria ini semakin lama semakin mengintimidasi.

Aku sudah muak. Aku sudah jijik dengan semua omongannya. Lantas, pertanyaan dia tadi langsung ku sambut dengan dorongan kecil agar ia menghindar.

“Haha, dasar perek. Cewek murahan kek lo aja sombongnya minta ampun. Najis gua.”  Ucap dia kali ini di depan wajahku persis sembari menghembuskan asap rokoknya ke wajahku.

Aku sudah benar benar muak. Aku langsung menamparnya. Kali ini cukup untuk membuatnya diam untuk beberapa saat. Aku tidak berkata-kata dan terus mempercepat langkahku. Aku sedikit melihat ke belakang pria itu sedang menarik nafas lalu berjalan cepat juga ke arahku.Belum sempat aku lari dan berteriak, pria brengsek itu langsung membekap mulutku. Ia mulai memelukku dari belakang dan membawaku ke sebuah gubuk tua yang sepi.

Aku meronta sejadi-jadinya. Tapi percuma. Jalanan masih sepi. Tidak ada satu orang atau kendaraan yang lewat di jalan yang becek ini. Tas belanja ku juga di lempar sembarangan tak jauh dari posisiku dengannya. Aku berusaha menendang dan melepaskan bekapannya tapi sayang, ia terlalu kuat atau tenagaku yang begitu lemah.

Saat aku sudah berada di dekat gubuk. Aku sudah pasrah akan menjadi “santapan” nya malam ini. Ketika si brengsek itu hendak merebahkan dan menciumku:

“BRAAKKK!!!!!”

Seseorang memukul leher pria brengsek itu. Setelah aku lihat seksama, wahhhhhh!!! Itu, itu adalah Bimo. Entah dengan keajaiban apa ia bisa lewat gang dan menolongku. Aku masih berusaha untuk bangun. Sementara itu bimo terlihat memukuli pria brengsek itu. Ia memukulnya dengan penuh amarah. Aku bisa melihat ekspresi lugunya berubah menjadi marah yang menyeramkan. Tenaganya cukup besar. Soal kekuatan, fisiknya tidak usah diragukan lagi. 

“Jangan apa-apain bu Retno, dasar kamu yaa jahat!! Jahatt!! Dasar penjahat!!!” Seru Bimo diiringi pukulan ke beberapa arah.

Pria itu berusaha melawan. Ia terus berlindung dari pukulan Bimo. Bimo terus membabi buta sampai…Sebuah pisau tertancap di perut Bimo. Si brengsek ini dengan teganya menusuk Bimo saat ia terdesak. Bimo seketika langsung menganga mata dan mulutnya. Aku sontak baru mendapat tenaga untuk bangun setelah hal itu terjadi. Aku berteriak kencang dan shock. Dengan sisa tenagaku aku melayangkan tendangan ke arah muka si pria brengsek itu agar lepas dari dekapan Bimo. Brengsek itu langsung terkulai lemas.

Bimo? Oh Bimo. Sepertinya luka tusuknya dalam. Aku berusaha menekan darah dengan daun dan kantong belanja ku. Bimo bergetar hebat. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku berteriak. Tapi belum ada yang mendengar.

“Bu, Bbimo ga ga gapapa”  Rintih Bimo.

“Sebentar Bimo. Bertahanlah Bimo Bu Retno yakin kamu kuat” Ujarku menenangkan.

Aku berteriak sejadi-jadinya dari rumah ke rumah. Lantas, orang-orang dengan cepat langsung menuju ke tempat Bimo terluka. Si brengsek tadi dengan susah payah bangun dan ingin segera kabur. Namun saat dia kabur, warga langsung ramai-ramai mengeroyok nya. Entah apa yang akan terjadi padanya, aku tak peduli.

Sebagian lainnya langsung menolong Bimo. Mereka langsung sigap memanggil ambulans. Singkat cerita ambulans sampai dan Bimo dibawa oleh petugas menuju rumah sakit terdekat. Aku tak henti-hentinya menangis dan berdoa untuk keselamatan Bimo. Aku dipersilahkan untuk duduk di belakang ambulans karena mereka semua berfikir aku ibunya. Aku hanya diam.

Di dalam ambulans, Bimo sedang ditangani para petugas. Entah apa yang mereka lakukan, aku hanya menangis sambil berdoa agar Bimo selamat. Namun semakin lama, kondisi Bimo semakin lemas. 

“Bu Enooo”  Bimo memanggilku dengan suara lirih.

Aku langsung menoleh ke arah Bimo. Bimo tersenyum dengan wajah gembulnya yang berkeringat . Sesekali tubuhnya bergetar. Bimo komat kamit sambil tersenyum tipis dan aku tak tahu apa yang dia katakan. Tapi sungguh, senyumannya kali ini sangatlah hangat dan teduh. Seolah-olah dia sedang melihat cahaya yang berkilau di hadapannya.

Aku mendekat ke wajah Bimo. Siapa tahu ia ingin mengatakan sesuatu kepadaku. Aku tersenyum tipis dengan air mataku yang masih berlinang menatap Bimo yang makin lemas. Diiringi suara sirine ambulans yang berkecepatan tinggi. Dengan susah payah, Bimo mengatakan 1-2 patah kata dari bibirnya yang pucat.

“Bu Enooo, bi Bimo makasih banyak loh udah diajak main sama ibu. Ibu baik. Aku mau kulit ayam ibu lagi kalau bimo udah sehat. Bimo mau terus sama ibu terus wehewhwhh” ucap Bimo yang suaranya makin pelan tiap kata per kata.

Aku tak sempat membalas. Tangisku pecah. Aku berusaha memeluk Bimo tapi petugas mencegah dan tak memperbolehkan ku. Jadi, aku hanya mengelus rambutnya yang seperti landak tanpa mengucapkan 1 kata pun. 

“Kita sebentar lagi akan sampai di rumah sakit bu.” ujar salah satu petugas ambulans.

Baru saja aku ingin bernafas lega, Seketika Bimo sudah tak sadarkan diri. Aku meminta sopir ambulans untuk lebih cepat mengemudinya. 2 petugas sigap tanggap menangani Bimo.

Akhirnya kami sampai juga di rumah sakit. Bimo langsung dibawa ke UGD dengan kasur beroda berwarna hitam. Aku mengantarkannya sampai pintu masuk. Kata yang diucapkannya sebelum masuk ke ruangan adalah:

“Bimo sayang bu Retno” 

Sayang sungguh beribu sayang, Itu kata menjadi kata terakhir dari Bimo dan setelah  5 menit berselang, Bimo dinyatakan meninggal dunia. Ia kekurangan banyak darah. Aku langsung bersimpuh di lantai menatap langit. Tangisanku kini tak bersuara seperti menahan sesuatu yang berat. Aku langsung bergetar hebat tak percaya kalau Bimo sudah tiada. Dengan tragis. Sungguh duniaku hancur rasanya berkeping-keping. Aku “ditinggal” untuk yang kedua kalinya. Tapi kali ini berbeda. Tak seorangpun akan mengerti seberapa sakitnya diriku kala itu.

Kabar meninggalnya Bimo dengan cepat meluas. Aku berusaha menghubungi tetangga-tetanggaku. Malam itu juga, jenazah Bimo langsung dibawa ke rumah duka yang tak lain adalah rumahnya. Rumahnya tak begitu luas. Hanya cukup untuk belasan orang. Aku ikut mengantarkan jenazah Bimo ke rumahnya. Mereka semua tertegun dan tak percaya setelah aku menceritakan apa yang terjadi kepadaku dan Bimo. Semua warga jadi bersimpati padanya setelah tau cerita itu. Bapak Bimo tak henti-hentinya menangis dan memaki-maki dirinya sendiri. Banyak warga yang menenangkan. Tapi apa daya. Mau sebanyak apapun tetes air mata sang bapak, mau seberapa murka bapaknya terhadap semesta tak dapat membuat Bimo kembali lagi. Ia terus membangunkan anak semata wayangnya itu diiringi beberapa warga yang membaca yasin dan berbela sungkawa di hadapannya.

Oh Bimo. Wajahnya sungguh berseri. Aku bisa melihat itu dari kain putih yang menutupi jenazahnya. Sepertinya ia sudah menemukan kehidupan barunya yang jauh lebih baik. Apakah kau sudah bertemu dengan ibumu? Apakah disana kau bisa makan kulit ayam sesuka hatimu? Aku bertanya dalam hati sambil membaca yasin dengan hati yang sesak.

Bahkan esoknya di pemakaman. Bapaknya bahkan tak henti-hentinya menangis menyesali perbuatannya terhadap almarhum anaknya. Aku dan warga lainnya tetap berusaha khidmat mengiringi perjalanan terakhirnya. Bahkan aku masih berada di makam setelah semuanya selesai. Masya Allah, Aku melihat sekitar ratusan orang banyak mengantar Bimo ke pemakaman. Tak sedikit juga yang menyebarkan kembang untukmu nak. Termasuk diriku. Beberapa orang yang tahu seberapa dekatnya Bimo padaku terus menguatkanku untuk tabah dan tak jarang mereka memujiku mengatakan kalau aku adalah orang yang baik. Tapi sudahlah, mereka seperti ini toh juga saat Bimo sudah tiada. Aku terus menangis memeluk batu nisan Bimo. Aku berharap, kita bisa bermain, memasak, dan makan bersama lagi seperti kemarin-kemarin. Aku beranjak ketika hari sudah semakin sore. Menyisakan suara burung yang bersiul dan angin yang berhembus. Suasana begitu sunyi, Aku melambaikan tangan ke makam Bimo. Menatapnya dengan tajam dan penuh sayang. Mungkin sekarang Bimo sedang bersama ibunya. Di Rumah yang megah dipenuhi makanan yang lezat seperti nasi, ayam dan kulit.

Aku memutuskan untuk tak berjualan dulu selama sehari. Mungkin sudah sedikit cukup untuk memulihkan psikis ku. Di satu waktu aku tak bisa berhenti menangis ketika mengingat Bimo. Sungguh pertemuan singkat yang manis. Aku dengar dari gosip tetangga kalau bapak Bimo seketika menjadi “gila” setelah pemakaman anaknya.

Sudah 2 hari semenjak Bimo meninggal, aku kembali berjualan di kios ku. Entah keajaiban apa kini daganganku selalu ramai. Bahkan 2 kali lebih ramai dari biasanya. Mungkin tetangga jadi lebih bersimpati untuk membeli ayam-ayamku setelah kejadian Bimo. Atau mungkin mereka jadi tahu seberapa suka Bimo dengan ayam racikanku sehingga mereka ingin mencobanya. Kios ku semakin lama semakin ramai dan aku putuskan untuk membuka restoran ayam di luar gang dekat minimarket. Pendapatanku meningkat cukup pesat dan sanggup untuk membayar ruko dan fasilitas lainnya untuk sebuah restoran. Aku memutuskan untuk menamai restoran ku “Bimo Fried Chicken.” Setiap minggunya juga aku dan seluruh karyawan resto ku berdonasi ke yayasan-yayasan untuk anak autisme di sekitar daerah kami. Aku juga sering menggratiskan beberapa menu untuk anak berkebutuhan khusus lainnya. Banyak juga dari pelanggan-pelangganku atau bahkan anak-anak bertanya siapa Bimo itu? Namun aku hanya menarik nafas dan tersenyum. Mungkin seiring berjalannya waktu, aku bisa berdamai dan menceritakan ulang tentang ini ke semua orang yang penasaran betapa baik dan lucunya anak ini.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *