Malam itu adalah pertemuan pertama kami. Seperti nasib cinta orang masa kini, kami dipertemukan oleh keakraban di media sosial. Setiap malam kami saling berbalas pesan, bahkan tidak jarang menyertakan tanda titik dua dan bintang. Seperti nasib cinta orang masa kini, aku dan perempuan itu dipertemukan oleh kekecewaan seorang manusia terhadap manusia lain. Kecewa yang mungkin juga ada bilamana aku membahas soal pernikahan. Tapi aku percaya keajaiban. Aku percaya bahwa segala sesuatu terjadi bukan tanpa alasan.

Seperti malam yang panjang buat kami, aku dan perempuan itu. Kami membicarakan banyak hal. Mulai dari buku-buku yang pernah kami baca, sampai masa lalu masing-masing. Sebisa mungkin aku menghindari obrolan soal politik, apalagi agama. Meski aku tahu, perempuan itu tidak akan keberatan sekadar kuajak bertukar pikiran. Tapi sedari awal ada hal yang ingin kukatakan kepadanya. Ah, kukira pernikahan bukan hanya kabar menggembirakan. Bagi sebagian orang, mungkin saja pernikahan adalah kabar yang tak mengenakkan hati. Meski sebatas pertanyaan: kapan nikah?

Aku tidak tahu apakah perempuan itu benar-benar berniat bersamaku. Memang masa lalu kami cukup rumit, tapi kukira hal itu malah membikin aku dan perempuan itu belajar untuk mengerti kemalangan satu sama lain. Ia mengatakan, bahwa aku adalah cermin dirinya di masa lalu. Seorang yang kerap bergonta-ganti pasangan lantaran merasa tak cukup dipahami oleh kekasih tersayang. Aku tertawa saja mendengar pernyataan perempuan itu. Setiap orang memiliki masa lalu, tapi hanya sebagian orang saja yang berani mengakui masa lalunya sendiri.

Aku percaya keajaiban, seperti aku percaya bahwa seseorang bisa menulis ulang sejarah hidupnya. Pertanyaanku, apakah sejarah hanya dapat ditulis oleh mereka yang menang? Aku lebih berpegang hati pada kalimat seorang sastrawan. Begini bunyi kalimat tersebut:

“Masa lalu tak perlu jadi beban, bila tak sudi jadi pembantu.”

Aku rasa perempuan itu juga setuju denganku. Dalam hal ini, terhadap kalimat yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer.

Dan benar saja, pada malam yang seperti malam yang panjang buat kami, perempuan itu pun bertanya kepadaku soal keajaiban. Aku tidak menjawab secara terang-terangan, bahwa aku adalah lelaki yang percaya keajaiban. Tapi aku tetap menjawabnya dengan cukup tenang.

“Begini,” kataku. Lalu meneruskan, “Yang namanya keajaiban tidak datang dua kali, bukan? Kita bisa saja tidak bertemu malam ini, oleh karena keajaiban itu sendiri. Entah keajaiban yang mana, aku tidak tahu. Setahuku, keajaiban itu ada di sini.”

Perempuan itu penasaran dengan jawabanku. Lantas ia bertanya, “Di sini?”

“Ya, di sini. Keajaiban itu tercipta dari masa lalu dan ada pada senyuman perempuan yang duduk di depanku.”

Aku tersenyum bahagia.

“Gombal! Hahaha…”

Karena perempuan itu tertawa, aku jadi ikut tertawa, malah tawaku lebih nyaring dan lebih panjang.

Aku cukup paham. Perempuan itu sebetulnya menanyakan tentang seorang yang menunggu. Maka itu aku menertawakan diriku yang pernah menunggu seorang yang kucinta. Betapa bodoh diriku, menanti seorang yang sudah kawin dan telah jadi bini orang. Hanya perempuan yang menunggu, lelaki tidak.

Kami berdiam-diam sebentar. Aku suka cara perempuan itu menghisap rokoknya. Seakan satu hisapan bermakna ketenangan yang hanya dapat dirasakan seorang diri. Bukan karena aku juga perokok, sehingga aku betah saja duduk di dekat perempuan itu. Bukan. Kami cuma tidak suka kemunafikan, terlebih lagi orang-orang yang bertindak seolah-olah mereka itu hakim paling bijaksana bagi hidup orang lain.

Aku menghisap rokokku dengan sendu. Aku pun benci terhadap kemunafikan. Tapi aku lebih benci diriku yang sedari awal ingin membicarakan tentang pernikahan dan tak kunjung terucapkan. Dan lebih benci jika percakapan soal pernikahan itu melukai hatinya, hati perempuan itu.

“Jadi kapan kamu menulis buku lagi?” tanya perempuan itu tiba-tiba.

Ia tahu kalau selain suka membaca, aku juga suka menulis. Aku pernah menceritakan bagaimana kali pertama aku menulis buku, atau sebelumnya menulis cerita pendek. Perempuan itu senyum-senyum saja waktu kuceritakan proses menulis buku pertamaku. Dan ketika ia tahu bahwa aku menulis cerita pendek demi bisa balikan dengan mantan kekasihku, ia tidak saja tersenyum. Perempuan itu menertawakan kemalanganku, sejadi-jadinya. Sialan, kataku dalam hati.

Meski tidak berhasil membuat mantan kekasihku kembali, aku jadi tertarik mempelajari sastra. Bahkan aku sampai memilih jurusan sastra saat kuliah dulu. Setiap ada orang yang bertanya kenapa aku memilih jurusan itu, kujawab sekenanya saja. Namun jika pertanyaan itu mengenai keputusanku berhenti kuliah di semester keempat, aku punya alasan tersendiri yang mungkin cuma aku dan buku-buku yang kubaca saja yang mampu memahaminya.

Ada masa ketika aku gamang dengan tulisan-tulisanku. Jika saat kuliah dulu para tetangga mengatai aku gila dan tidak realistis, itu aku terima. Namun dari lubuk hati terdalam, aku tidak terima terhadap kegamangan yang menimpa penulis belia sepertiku. Memang tulisan-tulisanku tak kunjung dimuat di media manapun. Memang aku selalu mengutuk orang-orang yang gampang menerbitkan buku dengan popularitas yang mereka miliki. Tapi aku tidak pernah membenci tulisan-tulisanku, sekalipun buku pertamaku pernah ditolak oleh salah satu penerbit besar.

Kadang-kadang aku berpikir, untuk apa aku menulis? Buku pertamaku, misalnya. Setelah sempat ditolak oleh penerbit besar, buku itu akhirnya kuterbitkan sendiri dengan dana mengutang. Ya, aku terpaksa meminjam uang kepada kedua orang tuaku. Uang pinjaman itu pun tak kunjung kukembalikan lantaran buku pertamaku terjual beberapa puluh eksemplar saja.

“Ingat-ingatlah kalian hai penulis-penulis belia: bila kalian memilih jalan sunyi ini maka yang kalian camkan baik-baik adalah terus membaca, terus menulis, terus bekerja, dan bersiap hidup miskin. Bila empat jalan itu kalian terima dengan lapang dada sebagai jalan hidup, niscaya kalian tak akan berpikir untuk bunuh diri secepatnya.”

Pesan yang terdapat pada buku Jalan Sunyi Seorang Penulis yang sebelumnya berjudul Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta karya Muhidin M. Dahlan paling tidak menuntunku ke jalan yang tak sesat. Aku memilih jalan menerbitkan buku pertama secara mandiri, lalu berkenalan dengan banyak orang yang berkecimpung di dunia perbukuan. Sebagian orang menertawakan nasib buku pertamaku yang tak laku, dan aku tidak berpikir untuk lekas bunuh diri. Mungkin untuk alasan itu, maka aku menulis.

“Kamu melamun. Pertanyaanku membuatmu merasa terganggu?”

Perempuan itu menyadarkan lamunan pendekku. “Ah, tidak. Aku senang kamu bertanya begitu,” jawabku cepat.

Kulihat perempuan itu mengerutkan keningnya. Sambil menghisap rokok, kuintip wajahya yang menunggu jawabanku. Sssh… asap rokokku menari dengan pelan, mencoba meyakinkan perempuan itu.

“Andai aku ingat bagaimana cara menyampaikan perasaanku kepada perempuan baik sepertimu,” ujarku sedikit ragu.

“Bukankah waktu itu kamu telah mengatakan hal ini?”

“Kali ini beda.”

Sssh… asap rokok sama-sama kami lambungkan ke udara. Entah kenapa, aku suka cara perempuan itu merokok.

“Kita menikah,” ucapku begitu saja.

Tak ada lilin di meja kami. Tak ada iringan musik romantis terdengar di kafe itu. Tak ada cincin yang kusodorkan kepada perempuan yang duduk di depanku. Seingatku, tidak ada keajaiban pada malam itu. Kalaupun ada, keajaiban itu berarti tulisan ini dimuat dan perempuan itu membacanya. Sambil sedikit menyesal, barangkali…

Jakarta, 16 Oktober 2016

Like 0
Dislike 0
Shares: