Pagi hari sambil menyeruput kopi di teras rumah melihat mentari pagi. Menghela napas. Berpikir, hangatnya kehidupan, ketenangan, susah didapatkan, walaupun di kematian. Beribu-ribu langkah menapak pada tanah, air mata menjadi
Puisi
Tangis air mata yang bersinar seperti permata.Menetes di telapak tangan yang sedang berdoa.Terbayang suka duka dosa yang pernah ada.Angin berhembus.Membawa harum bunga di halaman hatimu yang gundah.Kau menawarkan mati.Lalu kau
Tak usah bersedih terlalu larut, meski aku tahusedihmu tak pernah benar-benar hilang.Saudaraku, kawanku bara itu masih ada, meski tinggal secuil,meski cahayanya hanya sanggup bergetardi bawah rembulan yang ikut turut iba
Bunyi ventilator ICU sore ini, tiba-tiba berbeda suaranyaRentan dentingnya namun sudah berkawan lamaPandanganku tertuju lurus di ujung ruangFokusku terbagi Menyeret ingatanku, 13 belas tahun yang laluLangkahku cepatAku menghampiri seorang ibu
๐ต๐ข๐ฌ ๐ข๐ฑ๐ข ๐ซ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ณ๐ช๐ต๐ข๐ญ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ข๐ฑ๐ข๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ค๐ฆ๐ธ๐ข ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ช๐ณ ๐จ๐ช๐ญ๐ข Satu sesapan. Hingga menjalar pada sesap lainnya aku rasakan pada rongga kerongkongan lalu menuju indra penciuman
Ibu...Mungkin Ibu kecewa, kala Ibu dapati sebuah bungkus rokok yang tak absen berada pada tas kerja milikku setelah Ibu ingatkan aku untuk berhenti menyentuhnya. Berhenti menyentuhnya lagi setelah kusampaikan kabar
Karya: Sesep SihabudinTeruntuk: Nona Abu-abu Tuhan kapankah lelaki itu berhenti menjahit lukanya sendiri, dengan tangan yang gemetar mencoba mencari peruntungan, sementara kakinya mulai ringkih mentadaburi jejak-jejak kehilangan. Seorang pria yang
Kami berdiri menagih janjiTapi seolah mencari matiKami berdiri sendiri-sendiriTapi seolah dibayari Tak ada artiTak ada hati Kami berisik berteriak nyeriTapi kau dengar seperti bernyanyiKami sibuk mengelap tangisTapi kau lihat seperti
Mari kita susun kembali kepingan yang jatuhAda banyak kata-kata yang sering kubacaKemudian tenggelam. Lalu menghilang. Dari banyaknya metaforaPuisimu adalah jebakan terhebatSebagian orang menceritakan deritaYang lainnya berusaha membenci Mari kita susun
Entah berapa purnama lagiHarus dilalui nyanyian sepiSetiap ruang itu kubuka dengan hati hatiKubiarkan angin menyapanya dengan lembutMerasakan setiap sentuhan yang fana Lagi lagi terulangHanya hinggap lalu pergiHilang arah panah yang
Buku yang lama tersimpanSampul berganti dengan kerajinan yang baruTulisan di dalamnya merasuk pikiranWaktu pun berkata jangan terlena pada haru Selama apa tersimpannya buku ituBuku yang selalu mengingatkan panca indera muSelalu
Terlepas dari ilmu, sastra begitu indahNilai kebajikan dan kejahatan menjadi bagian yang setaraBergantung pada letak kehidupan yang beruntungPembeda bagi mereka yang bercahaya karenanya Manusia mewariskan budaya dan rupamerah gagah, putih
Artikel Lainnya











