Bagaimana jika aku yang berbohong?Kupinta hati untuk tak mengingatmu lagiNamun senyap sendu mengelabui lagiLenggak liuk tubuhmu kuingat lagi Bagaimana jika kau yang berbohong?Seolah kau setubuhi aku tanpa telanjangRiak riuh sorak
Puisi
Kehadiran seketikasontak mengelamkan temaramMenyentil pesan cakrawalatentang fatwa ingkar lagi khilaf dunia Ketika hanya airmatayang dapat membasuh kedalaman lukaNyeri yang bersembunyi,
memaknai petuah keteguhan hati Seringkih doahanya ikhlas yang merimbunkannya.
Yakin di rintik
Dengan cuacanya yangmendung, udara jadi lebihdingin dari biasanya. Sabtu pagi di kota kelahiran.Cuaca se-sendu ini aku sudahberpergian. Ke sebuah kedaikopi di ujung jalan. Tempatnyaaesthetic dan kopinya enakwalau menunya tak banyak.
Saat itu, aku sulit mengucapkanKetika memulai untuk berceritaSulit, itu yang ku rasakanNamun, seketika pikiran ku tenang Aku tak pandai menangisTak pandai mengeluarkan amarahkuKetika suatu saat ada yang membuatku marahAku, hanya
Sore berwarna jinggaMenghadirkan teduh bagi jiwaAku serta merana Namun semesta berkata:"kamu harus baik-baik saja" Disini, kakiku berpijakPada lantai rumah setapakHatiku berkata semoga lekas pulihDari rantai yang mengikat letih Hatiku terkikis
Aku menepi di sudut sunyi sebuah ruanganlalu kau datang bertanya luguseperti anak kecil yang haus tahutentang dunia, tentang aku Waktu itu, aku hampatatapan kosong tanpa arahnamun hadirmu, sekilas sajamembuatku merasa





