Puisi

freepik sketsa kopi pagi closeup cup with crema minimal pencil shading subtle table texture 0001

Kopi pagi

Pagi hari sambil menyeruput kopi di teras rumah melihat mentari pagi. Menghela napas. Berpikir, hangatnya kehidupan, ketenangan, susah didapatkan, walaupun di kematian. Beribu-ribu langkah menapak pada tanah, air mata menjadi
freepik sketsa surga dunia kota damai dengan rumah sederhana jembatan kayu langit cerah 0001

Dia, Surga Duniaku

Tangis air mata yang bersinar seperti permata.Menetes di telapak tangan yang sedang berdoa.Terbayang suka duka dosa yang pernah ada.Angin berhembus.Membawa harum bunga di halaman hatimu yang gundah.Kau menawarkan mati.Lalu kau
freepik gambarkan ada esok untukmu dalam sketsa siluet seseorang menatap matahari terbit garis halus melankolis 0001

Ada Esok Untukmu

Tak usah bersedih terlalu larut, meski aku tahusedihmu tak pernah benar-benar hilang.Saudaraku, kawanku bara itu masih ada, meski tinggal secuil,meski cahayanya hanya sanggup bergetardi bawah rembulan yang ikut turut iba
kematian

Pekat di 7 Ramadhan

Bunyi ventilator ICU sore ini, tiba-tiba berbeda suaranyaRentan dentingnya namun sudah berkawan lamaPandanganku tertuju lurus di ujung ruangFokusku terbagi Menyeret ingatanku, 13 belas tahun yang laluLangkahku cepatAku menghampiri seorang ibu
69a51962a6ef7

Angan Pulang

๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ณ ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข Satu sesapan. Hingga menjalar pada sesap lainnya aku rasakan pada rongga kerongkongan lalu menuju indra penciuman
699dc702a45fb

Petapa Masa Lalu

Karya: Sesep SihabudinTeruntuk: Nona Abu-abu Tuhan kapankah lelaki itu berhenti menjahit lukanya sendiri, dengan tangan yang gemetar mencoba mencari peruntungan, sementara kakinya mulai ringkih mentadaburi jejak-jejak kehilangan. Seorang pria yang
freepik sketsa vektor hitam putih kerumunan bersuara nyeri 21274

Tak Cukup Hanya Cinta

Kami berdiri menagih janjiTapi seolah mencari matiKami berdiri sendiri-sendiriTapi seolah dibayari Tak ada artiTak ada hati Kami berisik berteriak nyeriTapi kau dengar seperti bernyanyiKami sibuk mengelap tangisTapi kau lihat seperti
Screenshot 2026 02 20 055201

Puing 1

Mari kita susun kembali kepingan yang jatuhAda banyak kata-kata yang sering kubacaKemudian tenggelam. Lalu menghilang. Dari banyaknya metaforaPuisimu adalah jebakan terhebatSebagian orang menceritakan deritaYang lainnya berusaha membenci Mari kita susun
Seperti endorfin

Seperti Endorfin

Entah berapa purnama lagiHarus dilalui nyanyian sepiSetiap ruang itu kubuka dengan hati hatiKubiarkan angin menyapanya dengan lembutMerasakan setiap sentuhan yang fana Lagi lagi terulangHanya hinggap lalu pergiHilang arah panah yang
hidup dalam sebuah buku

Hidup Dalam Sebuah Buku

Buku yang lama tersimpanSampul berganti dengan kerajinan yang baruTulisan di dalamnya merasuk pikiranWaktu pun berkata jangan terlena pada haru Selama apa tersimpannya buku ituBuku yang selalu mengingatkan panca indera muSelalu
Humanioara

Sastra Humaniora

Terlepas dari ilmu, sastra begitu indahNilai kebajikan dan kejahatan menjadi bagian yang setaraBergantung pada letak kehidupan yang beruntungPembeda bagi mereka yang bercahaya karenanya Manusia mewariskan budaya dan rupamerah gagah, putih