Sastra

Usai Tanpa Peluk

Kita tidak benar-benar berpisah, kita hanya berhenti menyebut nama satu sama lain di dalam doa.

Selebihnya, semesta tetap menyimpan kita dalam cara yang sunyi.
Ada sore yang masih memantulkan bayangmu di kaca jendela yang tak lagi kubuka.
Ada hujan yang jatuhnya terdengar seperti langkah kaki yang memilih menjauh tanpa pernah menoleh.
Perpisahan bukan pintu yang ditutup keras-keras.
Ia lebih mirip kursi kosong di seberang meja-diam, tetapi mengubah seluruh arah percakapan.

Aku belajar bahwa kehilangan tidak selalu datang untuk merampas.
Kadang ia hanya ingin mengajari hati cara menggenggam tanpa memiliki.
Di dalam diriku, kau tidak pergi.
Kau berubah bentuk—menjadi gema, menjadi jarak, menjadi jeda panjang, yang membuat setiap kata terasa lebih jujur.

Malam-malam kini berjalan perlahan. Aku duduk di antara kenangan yang tak lagi meminta untuk diulang.
Aku menyentuhnya satu per satu seperti membaca halaman terakhir dari buku yang tak pernah ingin selesai.
Dan pada akhirnya, aku mengerti, kita bukan gagal.
Kita hanya selesai di waktu yang berbeda.

Jika suatu hari angin menyebut namamu, aku tak akan memanggilmu pulang.
Aku hanya akan tersenyum pelan, sebab pernah mencintaimu sudah cukup untuk membuatku mengerti arti kehilangan yang tidak sia-sia.

Like 2
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *