Sejatinya setiap masa
Adalah
Bermain peran
Berbagi peran
Peran berpura-pura
Peran perantara
Peran membosankan
Tak juga ketinggalan topeng-topeng
Sebagai penghias pilu, suka cita, durja dan amarah
Guratan tangan tersaji
Sebagai pertanda
Wayang yang kau pakai sekali
Wayang yang kau cari
Wayang yang kau mainkan
Setelahnya,
Dihempaskannya jauh tak kasat mata
Dipalingkan wajahmu hingga enggan melirik
Dijatuhkan sampai berlumur darah
Seolah-olah,
Fana terlihat nyata
Dalam bentuk padat yang utuh
Merayakan pameran kebahagiaan yang dipertunjukkan
Tanpa pamit berantakan
Senandung harapan digumamkan
Selaras topeng digunakannya kembali
Melanjutkan peran bersama tarian usang
Selaras menuntunnya pulang