Sastra

Selepas Mengecup Bumi

Selepas mengecup bumi,
Keningku menjelma bendungan runtuh,
Tak sempat menengadah lagi.
Apa yang hendak aku ucapkan?
Ah, sial, mulutku tak mau bersabda meski pelan.

Haruskah aku melambai saja?
Agar tubuhku tidak terus diguncang.
Sebab ada sunyi
Yang lebih fasih
Daripada seluruh bahasa
Yang pernah kupelajari.

Telapak tanganku
Perlahan kehilangan maksudnya,
Sementara jemariku
Seakan sedang melepas
Sesuatu yang sejak lama kugenggam.

Di belakangku
Seseorang memanggil-manggil,
Tetapi suaranya
Terdengar seperti hujan
Dari musim yang lain.

Aku ingin menjawab,
Namun setiap huruf
Berubah menjadi embun,
Jatuh satu per satu
Sebelum sampai ke bibir.

Maka kubiarkan saja
Keningku tetap akrab
Dengan tanah,
Seolah di sanalah
Segala percakapan
Akhirnya tak lagi memerlukan suara.

Dan jika nanti
Ada yang berkata
Aku terlalu lama diam,
Biarlah.

Barangkali
Tidak semua perpisahan
Harus diawali
Dengan lambaian.

Like 4
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *