Jika kamu baca atau mendengar tulisan ini tolong jangan dimasukkan hati Ini bukan esai, bukan puisi. Ini suara orang yang resah, sebagai ajakan berpikir, bukan ajakan berperang. Kalau ada yang terasa menusuk, mungkin itu bukan saya, tapi pertanyaan yang selama ini kamu hindari. Karena saya hanya ingin membawa kamu ke Verfremdungseffekt, dan berpikir saja
Anggap saja saya di sini sebagai Munkar dan Nakir walau saya tidak pantas disamakan tapi saya hanya membawa pertanyaan: seberapa kamu open minded?
Karena bagi saya, pemikiran yang terlalu besar juga bisa mematikan hak orang atau kewajiban kamu.
Lantas, kenapa sekarang orang bersosial menganggap jika kamu ingin bebas berbicara, kamu lalu bertameng untuk memaksa orang open minded? Lalu, seberapa kenal kamu dengan budaya dan adat? Kalau adat dicolong atau diambil, mengapa kamu hanya berkomentar seperti saya, tanpa bergerak? Apa kamu adalah orang yang berpikir adat tidak menyesuaikan zaman?
Ya, dulu aku pernah dengar ada orang tua berkata: “Kamu jangan menikah dengan orang Bugis, nanti uang panai kamu gak cukup.” Sebaliknya juga ada “Jangan menikah dengan dia, itu tidak bisa membayar panaimu.” Atau “Jangan menikah dengan anu, kalau kau menikah hilanglah marga mu.”
Ya, sebenarnya saya tidak paham mereka berbicara apa. Tapi menurut saya, saya lihat mereka hanya takut nantinya anak mereka tidak mengambil budaya atau adat dari salah satunya, yang akibatnya mungkin sekarang krisis identitas.
Memang saya bukan orang ahli, bukan pemakna, bukan budayawan. Karena yang saya tahu, nenek moyang kita pelaut. Dan mungkin kalau kita menilik silsilah, kita hanya terpisah karena ideologi dan dogma lingkungan kerajaan dulu, yang pada akhirnya kita terbagi menjadi golongan.
Dan saya juga tidak begitu mengenal budaya, kok. Buktinya saja saya masih pakai kaos dan jeans dari barat. Karena kita mengikuti media dan jaman saja, agar tidak dianggap aneh oleh sosial. Karena media komunikasi adalah alat untuk kita menyuarakan atau melawan sistem.
Kalau ada yang tahu Minke-nya Pramoedya, dia adalah salah satu contoh yang menggunakan media untuk membuat rakyat Indonesia bergerak. Cuma pakai logline “Belanda kafir” saja, sudah menguatkan bahwa halnya kata-kata dan berbicara bisa mengubah jalan pikir orang.
Maaf kalau saya bertele-tele membahas yang sebenarnya tidak penting sama kalian. Karena belum tentu tertuju ke kalian.
Toh, tanpa sadar saya sudah menuntut hak sama kamu untuk berpikir yang seharusnya kamu pikirkan narasi saya. Karena saya kan orang open minded. Kalau gak percaya balik ke narasi awal atau putar dialog saya sebelumnya
Karya ANOmali ciracas





