Populer

Kata Kita Mati Mutu

“Kalau libur, ya pulang saja” kalimat Bapak, membuka percakapan kami.

131 km jaraknya, 2,5 jam waktunya, tergantung moda apa yang kupakai untuk menempuhnya. Rumah, masih terdefinisi dua manusia mulia itu.

Sebetulnya, ada banyak kalimat yang ingin aku sampaikan. Tapi selalu tertahan di kerongkongan. Tak bisa kusemburkan, walau dengan topeng keceriaan yang biasanya kugunakan.

“Iya, Pak” Jawabku singkat.

Sejak pergantian tahun hingga bulan kedua tahun baru, aku masih belum siap untuk kembali. Entah kembali pulang dengan jiwa raga utuh, atau hanya sekedar kalimat-kalimat sempurna yang harusnya kuutarakan sejak lama.

18 Februari 2026, Rabu pagi

Matahari mengintip malas, sepertinya ia enggan menyibak selimut hitam di hadapannya. Sejenak kemudian ia justru memerasnya hingga kering, lalu mengalirkannya ke ujung daun yang setiap pagi menyapa di halaman rumah kami.

Halaman yang penuh dengan pohon jambu, pohon pisang, pohon pepaya, ahhh! ternyata ada pohon kedondong juga.

Bapak menatanya rapi di kiri dan kanan jalan menuju pintu utama rumah kami. Sebagian jalan ditambahi bebatuan, sebagian lagi masih tanah. Pepohonan di sini masih banyak, rimbun, udara juga masih sangat sejuk dan bersih. Jangan bandingkan dengan Jakarta.

“Waahh… Siap panen, nih” Aku yang selalu senang dengan prakarya Bapak, hijau ranum buah-buahan yang dihasilkan.

“Tapi cabainya mati terus. Bapak pakai pupuk, dicoba, tapi gagal lagi” Jelas Bapak, yang lebih sering disampaikan dengan cengiran tanggung.

Aku yang sudah sering mendengar kalimat itu, malah tak kuasa menahan tawa. Jika kalian tahu emoticon menangis, maka aku akan menggambarkan ekspresiku seperti itu 😭 dengan pemaknaan, tertawa yang sampai menangis.

“Hahahahhaa… Begitu itu lagi. Bapak mah petani gadungan” Sungguh, aku menyampaikannya sambil tertawa. Akhirnya bukan cuma aku dan Bapak yang tertawa, tapi Mama juga. Entah kalau orang lain tahu cerita ini, apa mereka akan tertawa atau tidak. Tapi bagi kami, itu amat lucu.

Tawa kami pecah, hanya karena kegagalan Bapak yang berulang. Padahal sudah berkali-kali mencoba pupuk atau obat hama untuk tanaman-tanamannya. Sempat berhasil, tapi banyak gagalnya. Meski demikian, tanaman sayuran Bapak juga sukses besar untuk ukuran halaman rumah. Timun, cabai, tomat, pare, kencur, waaahhh banyak juga ya, Pak.

Tanam-menanam ini sudah Bapak tekuni lama, sejak Bapak terpaksa selesai di perantauan. Stroke sebelah yang membuat Bapak tak mudah bergerak. Mengunyah, minum, bahkan untuk mengedipkan mata. Tapi pelan-pelan Bapak mulai membaik, meski tak sepenuhnya.

Ternyata itu juga mengubah banyak hal dalam hidup kita ya, Pak. Lebih banyak, di hidupku. Atau hanya perasaan egoisku saja?

Entahlah… Lagi-lagi aku tak bisa mendefinisikannya. Lagi-lagi hanya bersarang di kepala, dan tertahan di kerongkongan.

“Ayok liwetan, pake lalapan daun kencur, pake ikan asin. Mantap!” Aku mengajak semua anggota keluarga untuk datang. Iya, karena anak-anak Mama dan Bapak sudah terpisah rumah.

Nasi hangat, ikan asin, sambal, lalapan daun kencur, potongan timun, semua terhampar sempurna di atas daun pisang. Kami menyantapnya dengan riang.

Selepasnya, obrolan dan tawa menguar tanpa henti.

Seperti kami yang tadi pagi menertawakan kegagalan Bapak dengan tanamannya. Seperti kami yang menertawakan banyak kegagalan dalam hidup.

Ma, Pak, sepertinya akan ada banyak hal yang harus aku tertawakan, kan?

Like 0
Dislike 0
Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *