Sastra

Ke Yogya Merupakan Kesalahan yang Terus Kulakukan

Beberapa hari di pertengahan bulan Mei tahun ini(2021), saya menyempatkan diri untuk pergi ke tanah Yogya. Selain bernostalgia akan peristiwa dan kenangan di masa lalu saat masih belajar dan ngangsu di salah satu universitas di Yogyakarta, saya juga mempunyai niatan semangat silaturahmi kepada kawan-kawan yang masih tinggal di sana dan tak luput juga sebagai praktisi olahraga saya mengulik apa yang sedang berkembang dalam dunia keolahragaan tentunya, serta “ilmu-ilmu” lain yang mungkin tak ada dalam sebuah teori dan buku.

Semisal kesalahan, ke Yogya merupakan kesalahan terbesarku yang terus dan selalu kulakukan bilamana ada kesempatan untuk mengunjunginya. Barang siapa diantaranya yang belum pernah menginjak tanah Yogya, akan ku sarankan untuk tidak mengunjunginya. Karna bagi diantaranya yang menginjakan kaki di tanah Yogya sama halnya seperti menanam benih rindu dalam kalbu, semakin kamu jauh dan berjarak dari Yogya akan semakin tumbuh subur benih rindu tersebut, lalu berkembang dan selalu membayangi pikiranmu untuk kembali mengunjungi tanah dimana benih itu mulai ditanam. Mungkin ini sedikit berlebihan, tapi tidak bagiku. Karna lingkungan dan orang-orang Yogyalah yang tanpa disadari membuat siklus Yogya menjadi sungguh sangat sukar untuk dilupa. Di setiap sudut Yogya; di angkringan, warmindo pinggir jalan, kost-kostan, caffe, kopi joss, malioboro, tugu dan tempat lainnya selain menjadi tempat kenangan, juga menjadi tempat diskusi untuk mengadujotoskan isi kepala tapi tidak dengan suhu yang panas akan tetapi dingin dan dengan dasar yang lumayan cukup akurat untuk dicari akar isi kepalanya.

Ke Yogya memang seperti men-charge isi kepala dan menyulut kembali daya hidup yang mulai redup.

Kemarin, pada saat tiba di Yogya saya pun sudah mengikat janji meski tidak untuk bertemu dimalam pertama saya tiba. Tapi tikungan takdir mendaratkan saya pada pertemuan tanpa dijanjikan, dengan bertemu salah seorang kawan yang sudah saya incar dari jauh-jauh untuk ku-angsu isi kepalanya. Dan benar saja, belum sampai pantat saya duduk di kursi cafe saya langsung dihujani beberapa pertanyaan. Jelas arah dan tujuan beberapa pertanyaan yang dilemparkan kepadaku sebagai pemantik diskusi sampai batas akhir waktu selesai yang tak bisa kami putuskan. Diantaranya yang bisa saya bagi kepada pembaca sekalian adalah pertanyaan yang cukup mengganggu pikiran saya pada awalnya, namun setelah kami berdua adu jotos argumen masing-masing kami menemukan kesimpulannya.

“Manusia itu beradaptasi atau mengubah?”

Sebelum pembaca menjawab, dan sebelum tulisan ini saya tulis, Saya lompat ke cerita bahwa pertanyaan ini telah saya bawa dan ajukan ke beberapa teman yang hasil jawabannya 90% mengatakan bahwa manusia itu beradaptasi. Apakah pembaca sekalian juga menjawab hal demikian?

Kita kembali topik tulisan ini. Jika, kita menjawab manusia itu beradaptasi, lantas apa bedanya kita sebagai makhluk dengan hewan dan tumbuhan?. Padahal jika diambil teori dari khazanah agama bukankah manusia dicipta dengan akal, yang menjadikannya bisa berpikir dan dinobatkannya sebagai makhluk istimewa daripada makhluk yang lain. Tapi pertanyaannya, kita sebagai manusia menggunakan anugrah tersebut atau tidak?

Berarti mestinya sebagai manusia kita mengubah?. Hasil dari beberapa kepala menjawab demikian, dengan alasan pendayagunaan anugrah(akal) dari Tuhan tersebut.

Betapa arogannya manusia dan begitu sombongnya ketika ia baru masuk dalam sebuah teritori, lingkungan, kebudayaan, adat istiadat tiba-tiba langsung mengubah? Jikalau hal ini benar dilakukan setiap individu atas dasar pendayagunaan akal, bukankah akan memberikan dampak buruk, chaos. Kita contohkan saja ketika diantara teman-teman sekalian masuk ke dalam sebuah korporasi dengan aturan dan sistem yang berjalan, lantas kita sebagai orang baru hanya berdasarkan akal kita langsung semena-mena mengubah aturan dan sistem yang telah berjalan, bahkan mungkin jauh sebelum adanya kita. Hal ini pasti akan sangat membuat keadaan menjadi kacau, bukan? Bahkan hewan yang tidak memiliki keistimewaan berupa akal seperti halnya manusia ketika lingkungan yang menjadi daerah teritori dengan seluruh aturannya, jika tiba-tiba didatangi hewan lain maka insting atau nalurinya akan waspada, berontak, atau melawan artinya akan berdampak pada kekacauan bahkan “kematian”. Hal ini sebagai contoh bahwa jika manusia sebagai individu atau kelompok yang meninggali suatu lingkungan atau situasi tertentu langsung berinisiatif mengubah atas dasar apapun maka yang terjadi adalah chaos.

Masih menyangkut pembahasan di atas. Sebelum mendapat pertanyaan tersebut di Yogya, saya pun bertemu dengan salah satu saudara tua saya, yang pada obrolan kami pun jelas sangat terkait dengan konteks pembahasan di atas.

Pembahasan kami yaitu soal inovasi yang hakikatnya definisi katanya sama yaitu pembaharuan, mengubah atau mengembangkan. Waktu itu saudara tua itu menasehati saya dengan kata-kata: “manusia mesti berinovasi. Jika tidak, kita hanya akan jadi robot dari sebuah sistem yang berlaku.” Bukankah hal ini sangat mengerikan jika kita alami sampai hari tua nanti? Saya pun mengamini sekalian menunjukan padanya kalimat yang menjadi quote dari Seno Gumira Ajidarma: “Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”
Saya pun mengimbuhkan bahwasanya tidak dapat pula manusia dengan secara waktu yang singkat dan tiba-tiba mengubah sesuatu yang baru saja ia jalani atau ia hadapi. Secara hakikat ya, manusia mestinya mengubah, tapi tetap dalam prosesi budayanya harus beradaptasi.

Kita tilik kembali jejak tapak pemikiran Ki Hajar Dewantara yang kemudian diteruskan lagi oleh Pak Dhe Iman Budhi Santosa melalui rumusan 3N, yang merupakan akronim dari Niteni, Nirukke, Nambahi yang artinya sebagai manusia kita mestinya nineti atau menandai sebagai cara beradaptasi, kemudian niruke atau menirukan sebagai cara memahami dan menjiwai suatu peranan dalam hidup sebagai manusia, kemudian nambahi atau mengembangkan sebagai pengubahan, inovasi, pengembangan, atau pembaharuan. Maka, kami simpulkan bahwasannya sebagai manusia tak akan pernah bisa dikotomi dengan dua istilah adaptasi atau mengubah/inovasi. Karna pada kenyataannya semua sangat berkaitan satu sama lain.

Begitulah Yogyakarta, kota raya cinta, pasar kembang di pusat sukma. Kota dengan ke-khas-an tradisi budaya yang masih sangat kuat dan menjadi daerah dengan banyak Universitas berdiri yang menjadikannya mendapat sebutan kota pelajar. Sedikit saja tambahan perihal pelajar. Jikalau kita semua mau merenungkannya pasti lahir kesadaran bahwa sampai akhir hayat kita mesti menjadi pelajar sejati yang terus dan selalu mengolah diri untuk bergerak melahirkan daya hidup untuk diri sendiri dan orang lain. Karena rasanya kita tak akan pernah sampai dan percaya diri untuk menyematkan dan menyandang pada diri dengan kegagahan bahwa, saya seorang terpelajar.

utlubil ‘ilma minal mahdi ilal lahdi

I love you Yogya, i miss you always..

Yogya-Surabaya, Mei-Juli 2021

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *