Sastra

Kopi pagi

Pagi hari sambil menyeruput kopi di teras rumah melihat mentari pagi.

Menghela napas.

Berpikir, hangatnya kehidupan, ketenangan, susah didapatkan, walaupun di kematian.

Beribu-ribu langkah menapak pada tanah, air mata menjadi gumpalan darah, membuat goresan luka yang tak berarah.

Terpontang-panting tubuh lesu, termakan waktu menuju tempat yang membelenggu.

Terikat kontrak yang abstrak, penjara fisik yang melilit hanya hati yang bisa teriak.

Niat memejamkan mata untuk menghindari realita, tapi dibangunkan oleh ocehan sang penguasa.

Tidak terasa kopi tinggal setengah, dan waktu sudah berbicara untuk kembali ke realita yang sesungguhnya,

Mari bekerja, untuk bertahan hidup di dunia yang hanya fatamorgana, yang menyiksa batin penuh luka.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *