Sastra

Mystery Box Puisi

Menjelang akhir Ramadhan kemarin, saya coba mentadabburi surah Asy-Syu’ara (Para Penyair). Penyair itu, menurut Tuhan sendiri Sang Maha Penyair, terbagi dalam dua tipe: ada penyair yang disindir habis-habisan, dan adapula penyair yang dimuliakan sekelas syuhada. Tetapi dalam uraian ini saya tidak akan mengkomparasikan keduanya, melainkan dengan pendekatan tadabbur—meskipun tidak sepenuhnya—saya lebih banyak menyerap sindiran Tuhan untuk para penyair daripada pujian kepada penyair.

Jangan tanya mengapa? Pasalnya jelas, tiap kali saya buka lembaran demi lembaran puisi Al-Qur’an, sindiran adalah hal yang kerapkali saya jumpai dan rasakan. Seluruh muatan di dalam puisi Agung itu, rasa-rasanya tak ada satupun puisi yang tak menyindir saya sebagai manusia, dan ajaibnya, saya senang dengan itu. Bukan semata karena saya berusaha mendialogkan pemaknaan Qur’an dengan kenyataan hidup dengan lebih kritis dan tajam pada diri sendiri, melainkan lebih dari itu karena Tuhan telah men-jlentreh-kan suatu hal yang tampaknya remeh tapi telah memberikan semacam alasan yang wajar tentang memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas hidup dalam kehidupan sehari-hari.

Pendeknya, sindiran itu bisa membuat orang berubah dan berkembang menjadi lebih baik. Sindiran amat merangkul sikap rendah hati dan perilaku mawas diri. Sindiran juga bisa berarti peleburan “subyek-obyek” (penyair dan puisinya) kapan dan di mana saja. Sindiranlah kunci pokoknya!

Berkat sindiran pulalah, para penyair yang digambarkan melalui surah itu lain dulu lain sekarang, meskipun tugas kepenyairannya tampaknya masih sama ialah menyibak zaman penuh dusta. Bedanya kalau sejak zaman Nabi, puisi-puisi penuh dusta ditulis untuk mengecohkan wahyu Allah dengan syair manusia. Sedangkan sekarang puisi-puisi penuh dusta, barangkali, ialah yang menjauhkan kita dari pengalaman kita yang berhubungan dengan sekian banyak hal, tetapi bukan dalam kumpulan ini.

Salah satu tanda puisi telah berkembang, berubah dan bertolak-belakang adalah karena “Serial Ramadhan Berbuka Puisi: Volume 3” ini bukan saja bersemangat untuk menghimpun sekian banyak puisi dari sejumlah penyair muda di Bogor (serta berbagai daerah sekitarnya), melainkan juga terus mencoba menorehkan “sesuatu” yang mudah-mudahan mampu mengaktifkan kembali imajinasi pembaca yang didukung dengan penuh segenap penghayatan dan kepekaan demi menguatkan ikatan batin pembaca dengan kenyataan hidup. Hal ini dilakukan oleh para penyair dengan cara menghidupkan hal-hal yang selama ini karena saking dekatnya menjadi kurang diperhatikan, padahal sedemikian konkret karena dengan jernih dapat memantulkan “nuansa” dan “suasana” dalam puisi-puisi mereka.

Dengan cara bertuturnya, dengan pola pengucapannya maupun gaya pengungkapannya, dengan metafor, ritme, metrum, rima, matra, dan liriknya, atau dengan inovasi linguistiknya, pemberontakan gramatikanya, sejumlah puisi dalam serial itu boleh dikatakan mumpuni dalam menyentuh banyak hal remeh, sehingga ia mampu menghidupkan imajinasi dan mendekatkan kita kembali pada pengalaman yang bukan hanya dengan hal-hal sepele itu. Dan untuk mendukung pernyataan ini, cobalah baca sendiri sajak-sajak berikut: “Dua Saja Untuk Tuhan” Dewi Kusumawijaya, “Menelan Hari” Rifqi Septian Dewantara, “Berbukalah dengan yang Magis-Magis” Malza Nurzaini, “Separuh Aku Serupa Bayang-Bayang” Yegi Sandi, “Kalender Pekerja” Muhammad Fajar Muttakin, “Di Ambang Pertaruhan” Zikri Amanda Hidayat, “Mempuasai Muhammad” Teguh Tri Fauzi, dan lain-lain.

Sindiran adalah jalan lain ke mengalami sesuatu. Puisi-puisi dalam “serial berbuka puisi” ini baru akan berarti kalau kita rela membukakan diri bertaut ke dalam bagian-bagian dalam alam perpuisian itu; sengaja atau tidak. Keseluruhan diri batin kita yang mengalami itu terjun dan basah ke dalam apa yang dialaminya. Dan kita merasa terpaut dengan sebuah suasana, nuansa, citraan maupun atmosfer dalam sajak tertentu, sebuah ruang waktu yang lain, yang terlupakan atau yang terbayangkan, yang membuat kita merasa bergairah menjelajah ke dalam diri kita.

Sekelas Imam Syafi’i saja merasa tersindir dan menangis sejadi-jadinya seusai membaca Al-I’tiraf, sebuah syair atau puisi yang ditulis oleh penyair yang dikenal karena kelucuannya serta kemabukannya, yakni Abu Nawas—yang telah melahirkan puisi penyesalan yang dahsyat dan tenggelam beratus ribu puisi duniawi. Melalui puisinya ini kita seakan-akan mengarungi dosa-dosa dan menampung berbagai penyesalan sesuatu itu, beberapa di antaranya tercecer, bermukim, lalu perlahan-lahan tenggelam menjadi bagian dari bawah sadar. Sehingga bersua dengan kekuatan sajak semacam ini, beberapa bagian dari diri kita seolah-olah menjadi lebih hidup kembali. Hal ini disebabkan karena sajak merupakan hasil kontemplasi dari penyadaran dan penalaran penyairnya akan kehidupan.

Hal lain yang juga cukup “menggoreskan” antologi ini adalah kehadiran sajak-sajak yang bertemakan religiusitas, kenangan penting, kerinduan haru, amarah sosial, persoalan urban, dan upaya-upaya menggali kembali esensi puasa. Ada juga sajak-sajak yang ditulis dari pengembaraan imajinasi, serta amatan paling permukaan dari kenyataan faktual yang terjadi di tengah masyarakat atau berusaha keras menerjemahkan gagasan-gagasan besar dari alam pikiran ke dalam sajak. Tetapi seorang penyair gagal, atau berhasil, tidaklah tergantung pada apa yang menjadi perhatiannya, karena apa yang diperhatikan atau medium itu selalu bisa dijinakkan dan dikelola dengan berbagai teknik dan metode, isi dan bentuk, estetika dan wawasan, namun yang paling penting ialah kerelaan dan kesediaan diri dalam menampung sekaligus mengerami itu semua seturut daya tangkap tiap pribadi dengan segala perangkat puitika dan perlengkapan penciptaan yang dimilikinya.

Toh, di antara gugusan sajak yang “memukau” itu, tak sedikit pula sajak-sajak yang “redup” dari segi diksi, imaji, metafora, isi, rima, metrum dan matra. Malahan acap hal-hal yang berkaitan dengan keterampilan menulis atau teknis penciptaan belum mampu dipenuhi. Sebutlah soal gramatika. Tentu ini hanya tergantung pada latihan, apresiasi, pembinaan dan kesungguhan. Kemudian setelah ini tergantung pada faktor lain: nilai, arti, bobot, kualitas, mutu, kadar filosofi, muatan esensial, dan seterusnya—yang dasar bagi segala-galanya masih sama ialah pengalaman dan penghayatan. Namun tim kurator telah berusaha menyeleksi dan memilah sebaik mungkin agar setiap sajak yang dimuat dalam antologi ini dapat merepresentasikan capaian kualitas penyairnya.

Kalau kata Rendra, setiap sajak punya rezekinya masing-masing. Dan saya percaya bahwa setiap sajak juga akan mengungkapkan sendiri mutunya.

Sementara, mystery box puisi yang saya maksud dalam konteks ini adalah sebuah peluang di mana pembaca akan mendapatkan suatu sajak yang bernilai tinggi, atau justru sebaliknya, zonk. Kumpulan puisi ini barangkali semacam paket berisi barang acak yang dibeli tanpa mengetahui isi pastinya terlebih dahulu, ia bisa menawarkan kejutan atau beresiko fatal karena tidak mendapatkan apa-apa. Tapi yang paling menggembirakan ialah momentum semacam ini tidak berangkat karena dorongan emosional impulsif belaka, melainkan karena karya puisi dibaca juga dibicarakan sungguh-sungguh hanya sebagai karya sastra untuk meraih sebuah kenikmatan atau kebahagiaan tekstual yang muncul karena mengandung arti dan nilai-nilai universal manusia, memuat keberlimpahan makna, eksplorasi bentuk, memberi sensasi magi dan pesona, menyimpan semacam daya letup, daya kejut, dan daya pukau dari ketakterdugaan idiom dan frasa yang khas sekaligus metafor dan imaji yang malang-melintang dalam teks sastra.

Akhirnya, saya membayangkan antologi ini kelak seperti mystery box puisi; yakni ketika “kotak puisi” ini sampai ke tangan pembaca, lalu di-unboxing mulai dari halaman pertama atau dibuka secara acak, mudah-mudahan akan ada sebuah kejutan dari serial berbuka puisi untuk lapar-dahaga-rindu batin. Jadi jangan pernah jemu dengan puisi.

25 Maret 2026
Syahruljud Maulana, aktif berteater bersama Paseduluran Lidah Daun. Menulis puisi, esai, dan sejumlah drama. Tinggal di Pamulang, di padepokan Rumah Tumbuh Muthmainah.

  • Tulisan ini merupakan kata pengantar untuk kumpulan puisi “Serial Ramadhan Berbuka Puisi” Volume 3, Halimun Salaka.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *