Bunyi ventilator ICU sore ini, tiba-tiba berbeda suaranya
Rentan dentingnya namun sudah berkawan lama
Pandanganku tertuju lurus di ujung ruang
Fokusku terbagi
Menyeret ingatanku, 13 belas tahun yang lalu
Langkahku cepat
Aku menghampiri seorang ibu sendirian
Tepat di samping meja pasien
Sembari menarik nafas panjang
Menguatkan, menegarkan segala sesuatu bisa datang dan pergi
Epinefrin, calcium gluconas konsentrasi tinggi bergantian masuk ke aliran darah vena
Berharap harapan. Harapan yang melegakkan.
“Bu, hingga 15.50 kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi takdir Tuhan yang menentukan. Turut berduka cita yang mendalam Bu” Ucap Dokter lirih
Langit runtuh seketika
Bulir bulir air mata mengalir deras di pelupuk matanya
Pelukan itu menjadi pemberi hangat terakhir
Cinta pertamanya membiru
Tatapannya berhenti.
Aku membayangkan, bagaimana ibu ini menceritakan tentang ayahnya pada ibunda yang menanti di rumah,
Menagih janji akan kembali pulang
bukan enggan menemani kekasihnya, tapi sang ibu memang terbaring lemas melawan penyakitnya.
Bagaimana bisa mengulang sayatan yang nyaris belum kering, beberapa bulan kemarin ibunda kehilangan anak pertamanya,
Kini pujaan hatinya.
Kepergian bertubi-tubi
Tentang kehilangan
Banyak hal yang belum tersampaikan
Banyak kata yang tak terurai





