Di antara puing-puing reruntuhan
Aku terdiam. Tubuhku nyala terakhir
Dari seluruh yang padam.
Kakiku seolah tumbuh akar pohon
Dan mencekam tanah dengan kuat.
Sembari kuratapi kota yang hancur
Setelah kekacauan tahun lalu.
-Tak ada sesiapa, hanya aku.
Langit pada kota nampak
Seperti televisi yang rusak.
Tak ada desing angin yang memeluk tubuhku,
Hanya lengang dan bau tanah basah
Yang telah berhari-hari disetubuhi
Hujan.
Tepat di barat kota, terdengar
Nyanyian burung murai dari pohon tua
Yang daunnya telah dipangkas
Habis oleh matahari.
—Ia memanggil pelangi,
Dan kota sedikit memulih.