Ia mencintainya dengan cara yang pelan-pelan membunuhnya.

Namanya Dara, dan ketika ia menyebut nama Arga, suaranya selalu sedikit bergetar. Seperti ada sesuatu dalam dirinya yang tahu, nama itu tak seharusnya terdengar semesra itu dari mulut seseorang yang sudah terlalu sering menangis karenanya.

Arga punya senyum yang bisa membuat Dara lupa caranya berpikir. Dan ketika ia berbicara, suaranya seperti kabut yang memeluk dingin, tapi menenangkan, sebelum menyusup ke dalam paru-paru dan membuatmu sesak perlahan.

“Kalau kamu benar-benar cinta, kamu nggak akan bikin aku marah”, kata Arga suatu malam, setelah Dara terlambat membalas pesannya selama dua jam.

Dara meminta maaf. Berkali-kali. Seolah kesalahan itu pantas dihukum dengan diam yang mengiris, dengan kata-kata yang meledak tanpa aba-aba.

“Aku cuma takut kehilangan kamu”, lanjut Arga. “Makanya aku marah”.

Dara mengangguk. Ia percaya. Atau setidaknya ingin percaya. Bahwa amarah itu bukti cinta, bahwa kecemburuan yang mengunci geraknya adalah bentuk dari kepedulian yang terlalu dalam.

Semakin hari, ia merasa bukan lagi dirinya. Tertawa harus hati-hati. Berpakaian harus sesuai selera Arga. Berkata-kata harus selalu dengan jeda, takut satu kalimat salah bisa menjadi pemicu badai.

“Aku berubah demi kamu”. katanya pada cermin suatu pagi.

Tapi cermin itu tak menjawab, hanya memantulkan sepasang mata yang perlahan kehilangan nyala.

Di suatu malam yang pengap, mereka bertengkar karena hal kecil, lagi. Arga membentaknya, lagi. Dan seperti biasa, ia menangis dalam diam, lagi.

Tapi malam itu berbeda. Karena untuk pertama kalinya, Dara bertanya dalam hati:

“Ini cinta, atau ini cuma luka yang menyamar sebagai cinta?”

Tak ada jawaban. Tapi sunyi yang menjawab lebih jujur dari apa pun.

Hari berikutnya, Arga datang membawa mawar dan permintaan maaf. Bibirnya kembali manis. Tangannya lembut. Matanya seolah penuh penyesalan.

Dan seperti biasa, Dara tersenyum. Menerima.

Tapi sesuatu di dalam dirinya telah mati. Bukan cintanya, ia tahu ia masih mencintai Arga. Yang mati adalah dirinya sendiri. Dan ia sadar, ia telah memberikan segalanya, termasuk dirinya, untuk cinta yang hanya tahu cara memiliki, bukan menjaga.

Malam itu, sebelum tidur, Dara menulis satu kalimat di buku hariannya:

“Aku mencintainya, tapi aku lebih mencintai versi diriku yang telah ia hancurkan.”

Like 0
Dislike 0
Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *