Sastra

Tajam

Aku mengetuk rumah sahabatku. Mereka menyambut diriku dengan wajah terpampang dalam bingkai. Dia bertanya, “ada apa sahabatku”. Aku berkata “tidak apa apa, sahabat”.

Hati berkecamuk melihat intimidasi dalam bingkai. Seakan mengiris hati berlapis-lapis. Tak sanggup menatap gambar itu dengan lama. Takut banjir menggenang dalam ruang tamu yang tenang.

Diriku pulang dengan rasa lesu. Apakah diriku layak menjadi seorang anak yang dibanggakan oleh orangtua yang terhormat? Apa mungkin aku hanyalah hasil khayalan mereka?

Sialnya satu rasa tak sama singgah di kalbu terdalam. Tak layak mengemis hasil keringat orangtua. Dihadirkan saja lebih dari cukup. Memanggil nama sudah lebih cukup. Mungkin aku akan membanjiri kota jika itu diriku.

Hahaha, apakah layak?
Bukankah itu hanyalah anganmu belaka?
Benar, memang itu hanyalah angan yang tersusun rapih. Dalam pikiran dan hati yang sunyi.

Pahlawan dikenang berjasa merebut kemenangan. Bukankah diriku juga pantas disematkan. Menjaga martabat dan kewibawaan sebuah rumah. Atau mereka menyematkan sebagai dalang dari runtuhnya martabat.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *