“Seperti apa aku mau menghidupi aku?”
Pertanyaan yang perlahan mengisi waktu heningku di pukul enam sore kala itu.
Tidak mau menjawabnya dengan gegabah.
Tapi mulai kuurai dalam kata-kata yang seindah mungkin.
Kira-kira seperti ini:
Seperti bunga merekah yang terasa lebih indah di tengah pedesaan.
Seperti terang lampu yang terasa paling menyala pada remang dan gelap yang semestinya.
Seperti itu aku ingin merasa berguna dan dimaknai sebagai “aku” yang seutuhnya.
Menjalani hidup yang dirasa cukup dan sesederhana mungkin, setidaknya bagi diriku sendiri.
Tanpa mati-matian menuntut lebih
atas hal-hal yang belum seharusnya kumiliki.
Kelak, aku ingin menjelma…
Menjadi nyala atas remang yang dalam ketenangan.
Melayang pada kenang dan membuat hati senang.
Menjadi nyala atas gulita yang dalam gelisah.
Seperti setidaknya ada satu lampu dalam satu rumah.
Menjadi terang yang hangat,
tanpa harus menyilaukan mata.
Aku nyaman bersinar di tempat yang tepat.
Menjadi ‘ada’ pada tempat di mana aku benar-benar dibutuhkan,
Sebelum tiba waktu padamku.
Entah karena rusak, atau ada lampu yang lebih benderang.
Lalu aku akan tersimpan rapi di sudut ruangan.
Diletakkan begitu cantik dalam kenangan setiap kenangan manusia yang pernah menikmati remangnya.
Menjadi objek paling ikhlas jika harus terhempas habis oleh usang yang semakin lekas, ataupun lampu lainnya yang semakin cerdas.





