Dalam karangan ini berisi doa-doa mustajab yang dihaturkan kepada dua adik kecilku.
Sebagai prajurit penjaga dua putri yang kini sepeninggal sang raja.
Penuh harapan serta doa terbaik, kelak aku harap mereka berdua lebih dewasa ketimbang diriku yang saat ini tak tau arah.
Keterlibatan kalian berdua tidak ada sangkut pautnya dalam hidupku.
Keterlibatan kalian berdua hanya berlaku bagi momen-momen terbaik yang terjadi.
Bukan dalam setiap kegagalanku, atau hal-hal kecil yang kelak akan jadi masalah besar.
Aku bersemayam dalam setiap malam memohon yang terbaik.
Jangan seperti kakakmu ini yang penakut, bahkan sekedar bertemu hari esok yang belum pasti saja ia sudah mati.
Hiduplah semewah mungkin, tapi jangan terlena. Hadapilah semua rintangan walau tanpa sosok raja.
Kelak aku mengharapkan apa yang diharapkan orang lain.
Jangan takut akan nyawa-nyawa yang hidup bersosial, mereka bukan ancaman besar.
Mereka hanya hidup untuk diriku mereka.
Pada setiap waktu-waktu yang semoga mustajab, aku hanya mengharapkan yang terbaik.
Hari esok kian menakutkan, tapi setelah aku bertarung melewati siang.
Pulangku melihat kalian tertidur lelap.
Merasa jiwaku terpanggil untuk mempertaruhkan yang terbaik.
Makan hiduplah kalian sesuai porsi, sesuai keinginan, dan kesukaan.
Aku tak peduli pendapat orang lain yang sibuk katanya harus begini dan begitu.
Puisiku lahir ketika kalian tersenyum, puisiku mati ketika kalian bersedih.
Maka lahirlah menjadi kuat.





