Sastra

Secangkir Cokelat Hangat

Sore itu kulewati kaca setengah lingkaran
Pikiranku terperosok pada memori belia
Kita saling canggung,
Kita saling tatap,
Kita saling membelah kasih
Dialog mesra membawa musim semi

Secangkir cokelat hangat menjadi pembuka nostalgia
Bergelora menolak padam
Serupa kuncup yang bermekaran
Tumbuh di himpitan relung sukma
Mendesir kerinduan berbalas
Sungguh kamu bisa menahan gemuruh
Saat berkeliaran di derasnya hujan

Andai,
Ah, andai saja dulu saling puja
Mungkin Berbatas tegas akan terasa samar
Kubiarkan dia merayu nadi/ kulepas dari ruang ingatan?

Jika sekiranya wajahku mampir di benakmu
Sampaikan saja dupa mewangi
Aku akan memelukmu di pelupuk mata
Jika inginmu menggenggam tanganku
Cukup kamu resapi puisi ini
Kita akan abadi diujung bagian hati

Like 2
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *