Sastra

Dari Taman Puring Hingga Taman Lapangan Banteng

Aku melihatmu di setiap sudut di Taman Puring.
Di lantai dua Family Mart, di jalan-jalan lengang Taman Langsat,
di lirik lagu Sleep Well yang kudengar pukul dua dini hari,
atau di cat air dan kertas yang kubeli tempo hari.

Kudengarkan semua keresahan dan kekhawatiranmu tentang masa depan.
Tentang komposisi warna di gambarmu yang tak pernah aku mengerti,
juga tentang hidupmu di Bekasi.

Anjing-anjing di kepalaku bermain dengan segala kemungkinan.
Mungkin ada bagian dalam dirimu yang belum usai,
mungkin rambutku yang sering berantakan,
mungkin aku yang tak lihai bermain game mobile,
mungkin aku masih kurang mendengar.

Tapi, sayang,
dari sekian banyak kemungkinan-kemungkinan,
mengapa tak ada satupun kemungkinan yang mendekatkan kita pada kebaikan?

Aku juga melihatmu di setiap sudut di Taman Lapangan Banteng.
Di kepalan bocah-bocah yang belum sekolah,
di langkah-langkah pelari di malam hari,
juga di jalan-jalan ramai menuju Stasiun Juanda.

Di sana, kau bercerita tentang ciuman pertamamu dengan siapa,
yang sialnya, aku tak pernah bertanya.

Di kepalaku juga banyak unggas-unggas yang tak pernah puas.
Mereka beranak pinak pertanyaan-pertanyaan yang kelak kuberi nama; kenapa, apa, kapan, dan percuma.

Kuterima semua kurang-kurangmu yang bahkan kuanggap tidak ada.
Tak pernah kudengarkan apa kata rasi rasi bintang dan apa kata orang.
Tak kupedulikan ocehan yang bilang kau seorang Gemini,
karena sekecil apapun kebaikan akan selalu aku amini.

Tapi sayang, mungkin memang benar kata orang, apa yang sudah dijauhkan oleh Tuhan,
sebaiknya memang tidak perlu dipertanyakan.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *