Hari-hari yang kulalui terasa begitu berat. Persoalan demi persoalan, baik yang datang dari dalam diri maupun dari luar, terus membayangi langkahku seperti tabir yang tak kunjung tersingkap. Tak pernah terlintas di benakku bahwa suatu peristiwa akan mengubah arah hidupku sedemikian rupa: ajal yang datang menjemput tuannya.
Tuhan, apakah Engkau sedang merevolusi diriku? Ataukah selama ini aku hanya terlalu lihai memainkan sebuah peran? Mungkin justru terlalu lemah untuk bertarung di arena kehidupan yang mematikan.
Pernahkah seseorang benar-benar memahami apa itu kematian? Secara teori, kematian hanyalah keluarnya nyawa dari raga yang rapuh. Namun benarkah kematian yang dialami manusia adalah kematian yang sesungguhnya? Belum ada yang kembali untuk menceritakan apa yang mereka lakukan di balik batas itu. Sayangnya, aku pun belum sampai ke sana—setidaknya, belum secara mutlak.
Yang kutahu hanyalah satu hal: aku telah bertransformasi. Dari manusia biasa menjadi manusia yang dianggap gila. Kegilaanku lahir dari badai yang oleh orang lain hanya disebut angin lalu. Memang, tak ada yang benar-benar mengerti sebelum mereka sendiri mengalaminya.
Ada saat ketika jiwaku seolah ditarik menuju sebuah dimensi yang tak mampu dijelaskan dengan bahasa. Ia menyerupai lukisan Pablo Picasso: tampak sederhana, tetapi menyimpan kerumitan yang nyaris mustahil diterjemahkan. Hanya sedikit orang yang mungkin mampu membaca maknanya.
Banyak orang menganggap mati suri hanyalah imajinasi, atau sekadar fenomena yang dijelaskan melalui Sindrom Lazarus. Seandainya agamaku membolehkan bersumpah atas nama keyakinanku sendiri, mungkin akan kulakukan demi menegaskan apa yang pernah kualami. Namun keyakinanku mengajarkan kehati-hatian. Maka aku hanya bisa tersenyum getir.
Tubuhku pernah terbaring tak berdaya di atas ranjang. Rasanya seperti seekor harimau dalam penangkaran: masih memiliki taring, tetapi kehilangan hutan. Bebas secara kasat mata, namun hidupnya diatur oleh tangan-tangan yang mengatasnamakan kasih sayang. Barangkali benar itu cinta, tetapi cinta pun dapat berubah menjadi sangkar.
Orang-orang melihatku sebagai manusia yang merdeka. Padahal, pada hakikatnya aku adalah harimau yang dikurung. Seekor harimau tetaplah ganas. Ketika lapar, ia mengaum. Ketika kenyang, ia tertidur. Namun selama ia berada di balik jeruji, seluruh nalurinya perlahan dijinakkan.
Ada sesuatu yang terus merayap dalam diriku, seperti benalu yang menempel pada pohon. Ia hidup dari tenagaku, menguras kesadaranku, tetapi tak pernah benar-benar memberi manfaat. Aku terus bertanya: siapa sebenarnya yang tinggal di dalam diriku? Mengapa ia ada di sana? Mengapa begitu sulit melepaskannya?
Kini aku bukan lagi orang yang sama. Semangat untuk mengejar hal-hal yang dahulu kuanggap besar perlahan memudar. Nama, gelar, pengakuan—semuanya kehilangan daya tariknya. Mungkin perjalanan yang pernah kutempuh telah mengubah cara pandangku terhadap kehidupan.
Musafir itu telah pulang dari perjalanannya.
Sebagian orang menyebut Isra Mikraj hanyalah halusinasi Muhammad kata mereka yang mendustakannya. Sebagian lain menganggap pengalaman mati suri hanyalah dongeng yang diciptakan para penipu. Mereka mengucapkannya dengan penuh keyakinan, seolah kebenaran hanya memiliki satu wajah.
Namun aku tak lagi sibuk membuktikan apa pun kepada mereka.
Aku hanyalah aku.
Engkau adalah engkau.
Dua manusia dipertemukan oleh pengalaman yang berbeda, lalu dibenturkan oleh perspektif yang masing-masing menganggap dirinya sebagai kebenaran.