Tak usah bersedih terlalu larut, meski aku tahu
sedihmu tak pernah benar-benar hilang.
Saudaraku, kawanku bara itu masih ada, meski tinggal secuil,
meski cahayanya hanya sanggup bergetar
di bawah rembulan yang ikut turut iba melihatmu.
Tuhan menyayangimu,aku percaya itu.
Tapi aku juga tahu ujian-ujian yang dulu datang
terlalu berat untuk disebut sekadar “membentuk”.
Kau menyebut dirimu baik-baik saja,
padahal hatimu sudah lama koyak,
namun tetap kau jahit sendiri,
tanpa seorang pun tahu caranya.
Orang-orang menertawakanmu,
menyebutmu dungu,
menganggapmu jalan tanpa arah,
hidup tanpa masa depan.
Mereka tidak tahu, kau memilih diam
bukan karena tak mengerti,
tapi karena kata-kata terlalu sakit
jika kau balas dengan suara.
Matamu lelah,
lelah yang tak bisa ditidur-hilangkan.
Tubuhmu kokoh hanya karena kau tak punya pilihan lain
selain terus berdiri.
Makanan di dapurmu kau bagi pada orang lain,
padahal perutmu sendiri. sudah terlalu sering menulis puisi tentang kekosongan.
Pikiranmu melayang jauh,
mencari tempat yang lebih hangat
dari dunia yang terlalu dingin padamu.
Lingkungan seperti apa
yang membuatmu bisa sebaik itu,
sementara lidah dunia
hanya pandai menghakimi?
Aku sering bertanya—
mengapa kebaikanmu justru membawa sunyi
yang tak pantas kau tanggung sendirian?
Aku hanya berharap satu hal:
Esok masih mau datang untukmu.
Agar kita bisa tetap bertemu, duduk bersama,
di mana saja yang kau suka, sekalipun hanya untuk diam,
karena diam bersamamu lebih jujur daripada dunia yang sibuk berpura-pura.





