Sastra

Di Tengah Gelombang Cinta

Melihat senyummu seakan membuat sisa hidupku bertambah satu tahun
Bukan metafora
Itu adalah respons jiwaku atas semesta.

Mendengar suaramu
Seakan membuat hariku kembali mengenal warna
Tak lagi hanya hitam dan putih
Tapi tersadar ada warna cinta yang tidak bisa dikalahkan oleh apapun
Bukan metafora
Itu adalah respons jiwaku atas semesta.

Aku ingin mencintaimu dengan tidak sederhana
Seperti Alexander Agung menaklukkan dunia

Melangkah tanpa ragu
Menghadapi rintangan
Dan pulang dengan kemenangan

Aku ingin mencintaimu dengan tidak sederhana
Seperti Karl Marx memikirkan jurang kelas sosial

Sebuah gagasan yang awalnya dianggap mustahil
Namun perlahan membuka mata mereka yang berani mempertanyakan dunia.

Aku ingin mencintaimu dengan tidak sederhana
Seperti Bung Karno merumuskan mimpi tentang Indonesia

Gagasan yang berkali-kali disebut utopia
Namun terus diperjuangkan
Hingga menjadi alasan berjuta orang percaya
Bahwa masa depan selalu layak diperjuangkan.

Tak akan panjang tulisan ini kurangkai
Sebab jika seluruh isi kepalaku tentang dirimu kutuliskan
semesta akan kehabisan pohon untuk dijadikan lembar-lembar kertas.

Bahkan Mahabharata,
Dengan segala kisah yang dikandungnya
Barangkali masih akan tertinggal
Di belakang cerita tentang betapa aku mencintaimu.

Like 2
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *