Sastra

Dia, Surga Duniaku

Tangis air mata yang bersinar seperti permata.
Menetes di telapak tangan yang sedang berdoa.
Terbayang suka duka dosa yang pernah ada.

Angin berhembus.
Membawa harum bunga di halaman hatimu yang gundah.
Kau menawarkan mati.
Lalu kau menanam benih, di dalam tidurku

Langit mengigau.
Marah kepadamu yang begitu peduli terhadap ku.
Kau memuja yang ada di surga, hanya untuk hari hari indahku di dunia.
Kau terjatuh, ke dalam genangan air mata.

Pada malam, kau datang dalam diam, mengecup dahi untuk ketenangan, agar mimpi buruk tidak datang.
Sanubariku mendidih, melihat dirimu yang gigih.
Darah yang mengalir bersama
Tapi kau yang begitu terasa
Aku hanyalah benih
Yang kau rawat sepenuh hati, agar menjadi sang penginspirasi.

Aku tidak mengerti!
Bagaimana aku membalas semua ini?
Aku belum berarti!
Tapi kau memberiku arti akan duniawi.
Api membara di dunia penuh dusta, tapi kau selalu tertawa bahagia.

Kau mengucapkan, “tidak apa apa, ini hanyalah sementara, kau bisa, kau sudah melewatinya!”
Itu ucapanmu kepada ku yang terbujur kaku menatap diriku seperti batu yang tak terasah untuk menjadi sesutu.

Tapi kau ada!
Bagaimana aku membalasnya ?
Darahmu begitu membara!

Aku hanya lah sang dosa!!!
Tapi kau menjual raga jiwa mu hanya untukku saja
Kenapa?

Hanya terima kasih yang bisa ku ucap, untukmu yang sigap
Beberapa lembar uang tak bisa mengucap
Untuk balas kasih yang telah terungkap

Aku bagian dari dirimu
Aku ada karna dirimu
Hanya doa yang bisa ku berikan untuk dirimu!

Semua yang ada di dunia
Tidak ada yang bisa membalas anugerah mu
Terimakasih telah ada
Hadir didunia yang hanya sementara
Menanggung dosa-dosaku yang pernah ada hingga aku remaja
Terimakasih wahai sang surga, di duniaku yang fana.

Like 1
Dislike 0
Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *