Pukul 02.30 WIB.
Saat sebagian besar orang terlelap dan mimpi bekerja lebih keras daripada tubuh mereka.

Aku justru berdiri di depan sebuah rumah, dengan dada yang tak berhenti bergetar. Tubuhku sempoyongan, pikiran berisik seperti pasar malam yang tak kunjung bubar.

Di dalam rumah itu, sudah tersedia sebilah belati.

Entah siapa yang menaruhnya.
Entah siapa yang sebenarnya ingin mati.

“Jangan,” ada suara kecil bergetar di kepalaku. “Tolong, jangan mati.”

Aku tak tahu suara itu milik siapa—Tuhan, malaikat, atau sisa kewarasanku yang belum habis.

Yang kutahu, malam itu terasa seperti akhir dari sesuatu yang dulu kusebut love of my life. Lagu Queen terngiang samar di kepalaku, dan untuk pertama kalinya, frasa itu terdengar seperti lelucon.

Belati itu sempat kurebut.
Kuarahkan ke leher.

Beberapa detik terasa lebih panjang dari seluruh hidupku.

Namun tanganku gemetar.
Aku membayangkan berita pagi: potret wajahku, komentar orang-orang, dan hidup yang berhenti hanya menjadi bahan perbincangan.

Aku juga membayangkan hal yang lebih sederhana:
gaji bulanan yang tak sempat kunikmati, kopi pagi yang tak lagi bisa kuseruput, dan puisi-puisi yang belum selesai kutulis.

Belati itu jatuh lebih dulu daripada tubuhku.

Pukul 03.30 WIB, aku meninggalkan rumah itu. Motor kupacu tanpa arah, menyusuri jalanan kosong seperti orang yang sedang dikejar pikirannya sendiri. Air mata membasahi jaket lusuh yang belum sempat kucuci.

Aku marah.
Aku lelah.
Aku ingin mati—tapi juga takut mati.

Di situlah, mungkin, malaikat sedang bercanda.

Sebuah warung kopi masih menyala. Lampu neon pucatnya seperti berkata: hidup belum selesai.

Aku berhenti.

Di etalase kaca, ada mie goreng hangat yang baru diangkat dari wajan. Aroma bawang dan kecap manis menyergap lebih kuat daripada pikiran-pikiran gelapku.

Aku duduk.
Memesan seporsi mie goreng.
Dan sebungkus rokok.

Suapan pertama terasa biasa saja.
Suapan kedua membuatku sadar betapa laparnya aku—bukan hanya pada makanan, tapi pada hidup yang sempat hendak kutinggalkan.

“Ternyata enak juga,” gumamku pelan.

Sesederhana itu.

Di kursi plastik yang sedikit retak, dengan asap rokok melayang tipis di udara dini hari, aku membuka ponsel dan mulai menulis puisi:

Saat duduk aku coba membuat puisi

Catatan Mati Tengah Malam

Kudekap sebuah rasa yang terus hilang
Diri memanggil validasi dari sentuhan yang hendak dikonsumsi
Apabila semua tepuk tangan?
Artinya permainan terus berjalan
Koleksi 2-3 yang tak cukup
Semua menjelma hantu
Puisi ini tak mengganggu

Kenapa disetiap anganmu harus ada yang berhenti?
Oh, biar masalahmu menjadi masalahmu
Biar masalahku menjadi masalahku

Aku ingin hidup diujung pena
Menulis namaku pada abad-abad yang mulai hilang
Menjamu sejarah pada puisi yang kau anggap mengganggu

Jakarta, 2025

Sejak malam itu, aku selalu senyum-senyum sendiri kalau aku hampir mati konyol.

Ingat beberapa pesan saat itu:

malaikat pernah bercanda soal mie goreng—
dan aku tertawa kecil, lalu memilih tetap hidup.

Pada akhirnya yang membuat hidup adalah hal-hal sederhana yang setiap hari kita lewati

Dari sini aku sembuh. Psikolog bilang aku tetap terus menulis puisi

Like 1
Dislike 0
Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *