Ada beberapa jenis sangkar burung: sangkar bulat untuk kenari dan pleci, persegi panjang untuk murai batu, aviary besar, kandang besi umbaran—dan sangkar layang.
Sangkar layang. Bentuknya seperti namanya: melayang, tapi tetap sangkar. Tidak berjeruji besi, tapi burung di dalamnya tak pernah benar-benar pergi. Dari sangkarnya saja, burung itu sebenarnya punya kesempatan untuk terbang ke hutan.
Tapi hutan mana yang akan ditengger si kutilang kalau yang tumbuh lebih banyak sawit?
Ya, tahu lah. Dari probabilitas lahan sawit yang semakin luas, artinya ada lapangan pekerjaan.
Ngomong-ngomong soal sangkar layang, jadi ingat burung kutilang punya ponakan teman saya. Baru dibelikan bapaknya.
Katanya burung itu juga dicariin sama paman dan teman bapaknya yang kerja jadi pemburu.
Satu burung, diburu banyak orang.
Satu sangkar, dijaga banyak tangan.
Lucu, ya?
Burung dikurung dengan niat baik: diberi makan, diberi minum, diberi ruang nyaman. Mungkin burung itu merasa dipedulikan.
Padahal kalau saya jadi pemiliknya, mereka tidak jauh dari hewan peliharaan yang jadi aksesoris rumah. Mwhehehe
Di Aceh ada beberapa hektar hutan lindung di Aceh Utara yang sudah terbuka? Kalau dari jurnal citra satelit September 2025.
163,75 hektar.
Dibuka dengan dalih sawit.
Dibuka dengan janji plasma.
Dibuka oleh oknum masyarakat dan PT IBAS yang katanya hanya punya izin pabrik, bukan izin usaha perkebunan.
Raung buldoser, gemuruh pohon tumbang, berpadu dengan jerit isi rimba.
Tapi tawa kelakar badut-badut serakah tetap bergema.
Tanpa HPH, berbuat semaunya.
Sementara itu, kelompok kerja kelapa sawit berkelanjutan Aceh diluncurkan Agustus 2025.
Apical, Mars, Nestlé, Unilever semua duduk bersama.
Komitmennya indah: produksi minyak sawit bebas deforestasi, inklusif bagi petani, meningkatkan pendapatan daerah, menyelesaikan konflik lahan. Heleh kebelet nyawit.
Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, bilang pemerintah merespons sinyal pasar dengan sistem pemantauan deforestasi, percepatan legalitas lahan, dan penguatan tata kelola sawit berkelanjutan.
Tapi di Aceh Utara, hutan lindung tetap dirambah.
Lebih dari seribu hektar sawit tetap ditanam di kawasan yang seharusnya dilindungi.
Janji plasma 1.400 hektar untuk 700 kepala keluarga di kawasan hutan lindung.
Mungkin burung kutilang itu lebih beruntung.
Ia cuma dikurung di sangkar layang.
Tapi pohon-pohon di Aceh?
Mereka ditebang untuk sawit yang katanya membawa pekerjaan.
Dan berita tentang itu sering tertimbun berita perang.
Lagi-lagi narasi penting tertutup oleh narasi yang lebih bising.
Pusing, ya?
Sama. Saya juga pusing.
Belum makan waktu menulis ini.
Tadi sempat keluar berharap dapat takjil gratis.
Ngomong-ngomong soal gratis, jadi kepikiran program Makan Bergizi Gratis.
Program yang sering disingkat MBG.
Katanya bagus.
Tapi ada juga yang menggugatnya ke Mahkamah Konstitusi. Mereka menilai ada masalah konstitusional dalam perencanaan anggarannya.
Ada kritik bahwa sebagian anggaran sektor lain ikut tergerus: pendidikan, bantuan mahasiswa, hingga program sosial lain.
Bahkan Tentara Nasional Indonesia ikut dilibatkan dalam pengawasan operasional program ini.
Padahal dalam Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 dijelaskan bahwa fungsi utama TNI adalah alat pertahanan negara.
Maka muncul pertanyaan: sampai di mana batas peran lembaga negara?
Sebagian orang tua bahkan lebih memilih bantuan tunai langsung dibanding program makan yang terpusat.
Ngomong-ngomong soal bantuan tunai, jadi inget Ahok.
Dulu dia ngurusin Kartu Jakarta Pintar. Katanya, kalau dikasih tunai, orang tua pada ambil uang anaknya. Buat beli bensin, beli emas, bahkan buat karaokean katanya. Makanya dia bikin sistem cashless—biar duitnya keawet buat keperluan sekolah.
Tapi pas pilkada, lawan-lawan politiknya malah nawarin KJP Plus yang bisa ditarik tunai.
Lucu, ya?
Yang satu bilang: ini merusak mental anak. Yang lain bilang: ini pro rakyat kecil.
Saya jadi inget MBG sekarang. 73 persen orangtua katanya lebih milih bantuan tunai langsung daripada makanan gratis yang diatur negara.
Bedanya cuma zaman. Polanya itu-itu lagi.
Nah, ini yang unik.
Belakangan ini saya baca-baca soal colour of revolution. Bukan buku tentang warna cat tembok, tapi tentang warna-warna yang dipakai orang demo di jalan.
Katanya sih, itu teknik jaman baru buat ganti penguasa. Pake simbol warna biar kelihatan damai, rapi, dan fotogenik. Dimulai dari Ukraina pake orange, Georgia pake mawar, sampai yang terbaru… eh, kita punya pink dan hijau di negeri sendiri.
Iya. Pink dan hijau.
Yang pink katanya lambang keberanian emak-emak. Yang hijau katanya perjuangan ojek online yang ketabrak mobil polisi. Dua warna itu dipake ribuan orang turun ke jalan. Bawa tuntutan 17+8. Tersebar dari Jakarta sampai Melbourne, London, Paris.
Lucunya, warna itu awalnya cuma kebetulan: jilbab pink seorang ibu yang videonya viral, seragam hijau driver yang jadi martir. Tapi kemudian jadi gerakan. Ada yang bilang ini spontan. Ada yang bilang ini settingan. Ada yang bilang ini dalang asing.
“Skenario warna-warni ini sudah dipakai di Kazakhstan, Hong Kong, Ukraina,” kata seorang analis. Modusnya: manfaatin kemarahan rakyat, kasi uang, kasi pelatihan, lalu tunggu pemerintah bereaksi keras biar kelihatan jahat.
Kalau dipikir pikir sama saya yang jarang mikir masa iya kalau emak-emak beneran marah karena harga naik, karena hutan dirusak, karena anaknya susah sekolah apa perlu dalang asing buat marah? Apa perlu dilatih biar protes?
Atau jangan-jangan yang lebih menakutkan bukan dalang asing, tapi kita yang jadi dalang buat diri sendiri? Marah tapi takut, protes tapi minta aman, demo tapi pulang sebelum magrib. Kayak burung di sangkar layang: bisa terbang kapan aja, tapi milih balik karena takut hutan udah gak ada.
Pusing, ya?
Saya juga pusing.
Mungkin memang sudah waktunya kita mikir: siapa sebenernya yang ngatur warna-warna ini? Rakyat? Politisi? Atau mesin-mesin pintar yang belajar dari pola marah kita? Karena katanya, AI jaman sekarang lagi belajar bikin strategi kampanye, termasuk simulasi gerakan massa.
Kalau AI udah bisa bikin warna baru buat demo, kita mau protes pake warna apa? Atau kita diam aja, jadi penonton setia yang komen “kirain apa” di kolom medsos?
Lalu tiba-tiba kita bicara tentang AI. Saya bahkan menulis ini sambil dibantu koreksi oleh AI.
Apakah suatu hari nanti AI akan mendahului kita?
Kalau mereka punya id, ego, dan superego seperti dalam teori psikoanalisis?
Kalau mereka juga mulai bermimpi seperti manusia menciptakan Pinocchio?
Pinokio adalah boneka yang ingin menjadi manusia.
Sementara AI adalah mesin yang belajar menjadi manusia.
Ia meniru puisi.
Menyalin kebencian.
Mempelajari cinta.
Ia menjadi arsip besar dari kebijaksanaan dan kebodohan manusia.
Ada yang menyebutnya “ghost in the machine”.
Bukan roh yang menghantui mesin.
Mungkin justru kesadaran manusia yang terus mencari pantulannya di cermin, di layar, dan di dalam baris-baris kode.
Pertanyaannya sederhana.
Kalau AI bisa menulis puisi, apakah ia pernah merindukan hutan?
Apakah ia tahu rasa lapar yang belum terbayar program makan gratis?
Saya curiga bangsa kita sebenarnya bukan penulis yang baik.
Kita adalah pencerita yang baik.
Kita lebih suka ngobrol. Ngalor-ngidul. Cerita dari warkop.
Padahal kalau kita penulis yang rapi, sejarah seperti Perang Bubat atau epos besar seperti I La Galigo akan tercatat lebih sistematis.
Tapi tidak apa-apa. Karena cerita juga cara manusia bertahan.
Padahal awalnya saya ingin bicara tentang ekologi dan bencana.
Tentang teman-teman di Aceh yang masih melawan ketidakadilan sistem.
Tapi narasi mereka tertimbun berita perang, konflik global, sensasi politik.
Media zaman sekarang piawai menutupi narasi penting dengan narasi yang lebih bising.
Mungkin itu sebabnya judulnya Sangkar Layang.
Kita sebenarnya seperti burung yang masih bisa terbang.
Tapi hutan sudah berubah jadi sawit.
Hutan lindung dirambah.
Hutan adat diklaim perusahaan.
Dan hutan yang tersisa dijaga oleh aparat yang seharusnya menjaga perbatasan.
Kita tinggal di +62.
Di sangkar bernama Indonesia.
Tidak ada jeruji besi.
Tapi kita juga tidak benar-benar pergi.
Mungkin karena diberi makan.
Mungkin karena takut hutan sudah tak ada.
Mungkin karena kita lupa cara terbang.
Seperti burung peliharaan yang dilepas setelah lama dikurung.
Ketika dilepas, ia hanya terbang berputar-putar.
Dan menjelang sore, ia kembali ke sangkar yang masih tergantung di tempat semula.
Telah kehilangan kenikmatan menjadi makhluk merdeka.
Oh iya, sengangkar itu menurut KBBI sebenarnya burung layang-layang.
Bukan kutilang.
Tapi dalam prosa ini semua burung bisa menjadi sengangkar.
Semua bisa melayang.
Asalkan sangkarnya cukup tinggi.
Kalau kata Tan Malaka: mistika bertemu logika.
Mungkin tulisan ini juga begitu.
Belum tentu tindakan.
Masih sekadar pikiran.
Mens rea, belum menjadi actus reus.
Tapi tidak apa-apa.
Yang penting saya tetap menulis.
Besok pagi.
Atau sore nanti.
Hehehe.





