Dalam karangan ini berisi doa-doa mustajab yang dihaturkan kepada dua adik kecilku.Sebagai prajurit penjaga dua putri yang kini sepeninggal sang raja. Penuh harapan serta doa terbaik, kelak aku harap mereka
Sastra
Ada beberapa jenis sangkar burung: sangkar bulat untuk kenari dan pleci, persegi panjang untuk murai batu, aviary besar, kandang besi umbaran—dan sangkar layang. Sangkar layang. Bentuknya seperti namanya: melayang, tapi
Jika kamu baca atau mendengar tulisan ini tolong jangan dimasukkan hati Ini bukan esai, bukan puisi. Ini suara orang yang resah, sebagai ajakan berpikir, bukan ajakan berperang. Kalau ada yang
“Tanam rumpu-rumput itu! Cepat!!!” Atasanku berkata keras kepada budak-budak itu. “kerja… kerjaaa… yang cepat… jangan lambat!!” Kulihat banyak sekali budak-budak di dataran luas ini, mungkin ada ratusan jumlahnya, ada yang
𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘱𝘢 𝘫𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘭𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘢𝘱𝘢𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘬𝘦𝘤𝘦𝘸𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘨𝘪𝘭𝘢 Satu sesapan. Hingga menjalar pada sesap lainnya aku rasakan pada rongga kerongkongan lalu menuju indra penciuman
Ibu...Mungkin Ibu kecewa, kala Ibu dapati sebuah bungkus rokok yang tak absen berada pada tas kerja milikku setelah Ibu ingatkan aku untuk berhenti menyentuhnya. Berhenti menyentuhnya lagi setelah kusampaikan kabar
Karya: Sesep SihabudinTeruntuk: Nona Abu-abu Tuhan kapankah lelaki itu berhenti menjahit lukanya sendiri, dengan tangan yang gemetar mencoba mencari peruntungan, sementara kakinya mulai ringkih mentadaburi jejak-jejak kehilangan. Seorang pria yang
Aku adalah seorang janda yang ditinggal suami karena wanita lain. Mantan suamiku pergi entah kemana. Kami juga belum dikaruniai anak. Dengan sisa tabungan yang kukumpulkan, aku mencari peruntungan dengan membuka
Kami berdiri menagih janjiTapi seolah mencari matiKami berdiri sendiri-sendiriTapi seolah dibayari Tak ada artiTak ada hati Kami berisik berteriak nyeriTapi kau dengar seperti bernyanyiKami sibuk mengelap tangisTapi kau lihat seperti
Mari kita susun kembali kepingan yang jatuhAda banyak kata-kata yang sering kubacaKemudian tenggelam. Lalu menghilang. Dari banyaknya metaforaPuisimu adalah jebakan terhebatSebagian orang menceritakan deritaYang lainnya berusaha membenci Mari kita susun
Entah berapa purnama lagiHarus dilalui nyanyian sepiSetiap ruang itu kubuka dengan hati hatiKubiarkan angin menyapanya dengan lembutMerasakan setiap sentuhan yang fana Lagi lagi terulangHanya hinggap lalu pergiHilang arah panah yang
Buku yang lama tersimpanSampul berganti dengan kerajinan yang baruTulisan di dalamnya merasuk pikiranWaktu pun berkata jangan terlena pada haru Selama apa tersimpannya buku ituBuku yang selalu mengingatkan panca indera muSelalu
Artikel Lainnya











