๐ต๐ข๐ฌ ๐ข๐ฑ๐ข ๐ซ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ณ๐ช๐ต๐ข
๐ญ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ข๐ฑ๐ข
๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ค๐ฆ๐ธ๐ข ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ช๐ณ ๐จ๐ช๐ญ๐ข
Satu sesapan.
Hingga menjalar pada sesap lainnya aku rasakan pada rongga kerongkongan lalu menuju indra penciuman dan terus berputar seolah abadi sebagai ikatan.
Dengan iringan nada sendu kemudian diteruskan dengan lirik bermakna pilu
serta angin dingin yang halus menyentuh sampai terasa membeku.
Pada waktu ini, di bawah pohon yang warnanya serupa dengan langit
Hujan telah memutuskan usai untuk turun.
Lain denganku yang tak urungkan usai dan beranjak jauh
Hingga menyisakan aku sebagai satu-satunya.
Kurasa sebuah tenang
Kurasa seakan pulang
Lalu aku dengan lirih;
โsemesta: sepi inikah sebenarnya rumahku? Dinginโฆ Setitik saja.. Jika berkenan, berikan aku hangatโhangat yang kurasa lama tak berpulang pada jiwa.โ





