Hai, aku kembali dengan cerita baru, dengan cerita yang nggak kalah menarik dari kemarin—“mungkin”, haha.
Ah, sudahlah. Sulit sekali untukku mengutarakan sebuah perasaan, bukan sebuah ketertarikan, melainkan rasa sakit yang mendalam.
Ketika aku merasakan ini, aku seketika teringat perkataan Sudjiwo Tedjo:
Segalanya bersifat dualistik. Bahkan ketika oksigen menghidupimu, oksigen pula yang membuatmu tua dan mati. Ketika harapan membuatmu merasa hidup, harapan pula yang membuatmu merasa mati
Itu yang sedang aku rasakan. Semuanya dualistik.
Aku berpikir bisa menjadi pelindung, namun justru ternyata bisa menjadi celaka bagiku.
Namun… pada dasarnya aku pun tidak bisa memaksakan orang lain, karena mereka punya hak untuk dirinya sendiri.
Hari ini, aku belajar banyak tentang sesuatu yang bahkan orang anggap sepele dan sering keliru.
Sebenarnya ini bukan hal yang perlu didebatkan, tapi menurutku juga logis untuk dipikirkan.
Cinta. Menurutmu, seperti apa cinta?
Apakah seperti ketika kamu suka bunga kamu akan memetiknya, dan ketika kamu cinta kamu akan merawatnya?
Itu benar, dan tidak salah.
Namun ada hal yang lebih dalam dari itu.
Ketika kamu merasakan cinta, itu adalah fase di mana kamu merasakan keterikatan terhadap seseorang.
Kamu merasa memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain terhadap orang itu.
Namun di sisi lain, apakah kamu harus egois dan merasa dia harus mencintaimu balik? Tidak. Itu salah.
Karena pada dasarnya, cinta adalah rasa yang kita rasakan sendiri.
Dan ketika kita berpikir dia harus mencintai balik, itu adalah bentuk keegoisan dan paksaan terhadap haknya.
Dia bebas menentukan siapa yang ingin ia cintai, sebagaimana kamu bebas mencintai siapa pun.
Apakah kamu mau ketika dipaksa mencintai seseorang yang bahkan kamu hanya tahu namanya?
Pun ketika kamu menjalin hubungan, kamu tidak bisa memaksanya dengan hal-hal gila seperti membatasi pertemanannya, atau bahkan sahabat kecilnya.
Kamu sudah membuat benteng besar, dan tanpa sadar, mengubah kepribadiannya.
Jadi jangan heran jika suatu hari kamu merasa dia berubah.
Karena sikapnya kini telah menyesuaikan sistem yang kamu ciptakan untuknya.
Ah, sudahlah.
Mungkin kamu akan salah paham ketika membaca ini dan mengira aku sedang jatuh cinta. Nope…
Aku hanya menulis apa yang ingin kutulis.
Bahkan ketika aku ingin menulis tentang seorang penjual majalah bekas di pinggir jalan—
mereka tetap mencoba mencari nafkah di tengah peradaban yang kini tak suka membaca.
Pun sekalinya membaca, mereka memilih buku-buku bergengsi, atau beralih ke e-book.
Sial, aku merasa bingung.
Aku rasa yang kutulis semuanya adalah bentuk kemuakanku terhadap apa yang kurasakan.
Aku muak.
Aku muak.
Aku muak.
Sakit rasanya ketika kita gagal dalam hal yang kita yakini.
“Aku unggul di bidang ini,” pikirku.
“Atau mungkin… aku pasti terpilih.”
Dan ternyata? Aku mati di dalamnya.
Aku terbunuh oleh harapanku sendiri.
Terluka oleh ekspektasi yang kini menggerogotiku dari dalam.
Dari segala hal..
cinta, keluarga, pertemanan, apa pun itu…
Aku selalu kalah.
Entahlah, aku merasakan luka ini mulai menutup bersama dinginnya udara.
Darah ini perlahan membeku.
Aku tidak tahu kapan akan mencair,
tapi biarlah membeku, agar aku tidak lagi merasakan sakitnya.





