Meraung tanpa jeda di tengah hening yang terlalu sunyi,
aku berlari.. bukan untuk pergi, tapi untuk menemukan arah pulang
yang entah sejak kapan terasa asing.
Langkahku tersandung daun-daun kering,
berserakan, menutup jalan yang seharusnya bisa kulewati.
Gelap merayap tanpa sisa…
bahkan bintang malam memilih menghilang,
dan bulan pun seakan lelah menjaga terang.
Namun kakiku tetap bergerak,
seolah ada sesuatu yang memanggil dari kejauhan…
sebuah “pulang” yang selalu kupercaya ada,
meski berkali-kali membuatku mencari kemana arahnya.
Apakah diam benar bisa menjadi penawar?
Atau justru ia memperpanjang perih yang tak terucap?
Katanya wajahku menjemukan,
katanya aku perempuan yang tak pernah benar-benar mengerti.
Tapi anehnya, aku tetap kembali..
lagi dan lagi..
ke tempat yang sama,
pada rasa yang sama.
Karena sejak awal
aku memilihnya dalam doa-doa yang kusebut dan kuminta segera.
Sejak saat itu, aku percaya..
bahwa arah pulangku adalah dia,
meski jalan menuju ke sana selalu penuh liku.
Mungkin luka ini memang milik kita,
sesuatu yang tak pernah benar-benar kita pahami penawarnya.
Namun aku mengurainya perlahan,
menyusunnya satu per satu,
mempelajari setiap diam dan marahmu,
menyimpan setiap patah tanpa banyak tanya..
hingga suatu hari
aku tak lagi berdiri sebagai seseorang yang bingung.
“Jika kamu marah… harus ke mana aku pulang?”
pertanyaan itu kini gugur dengan sendirinya..
karena aku telah sampai
pada seluruh jawaban yang tak pernah kau ucapkan.
aku membaca caramu diam,
memahami caramu menjauh,
dan menerima caramu tetap tinggal
meski tak selalu utuh.
aku mengerti kini..
bahwa pulangku tetap kamu,
bukan karena aku tak punya arah lain,
melainkan karena aku telah mengenal
segala lukamu,
segala marahmu, dan segala hal yang bukan hanya tentangku
dan kali ini
aku kembali..
bukan sebagai seseorang yang tersesat,
bukan sebagai seseorang yang bertanya,
melainkan sebagai seseorang yang telah tahu
bahwa sejauh apa pun aku pergi, aku tetap memilih
pulang kepadamu.
lagi..lagi..dan seterusnya begitu