Sastra

Manusia Setengah Hidup

Manusia munafik.
Manusia dengan dua wajah dan dua kehidupan yang berbeda.

Jangan bayangkan dia seperti siang yang hangat atau malam yang tenang.
Dia terlalu kacau untuk disamakan dengan hal-hal seindah itu.

Di siang hari, dia berjalan seperti manusia biasa.
Bekerja, tertawa, bercanda, terlihat bahagia seperti kebanyakan orang.

Namun, itu bukan dirinya.
Itu hanya karakter yang ia ciptakan untuk bertahan melawan dunia.

Dirinya yang asli muncul saat malam datang.
Malam adalah tempat di mana topengnya runtuh.

Di sanalah ada sosok rapuh yang terasa bisa hancur hanya karena satu sentuhan kecil.
Malamnya tidak pernah benar-benar tenang.
Malam baginya adalah perang.

Setiap malam, refleksi dirinya datang kembali.
Kadang menentang, kadang menantang.
Memaksanya memikirkan ulang semua hal yang sebenarnya ingin ia lupakan.
Bahkan tubuhnya sendiri terasa seperti musuh.

Otaknya terus berceramah dengan logika—mengurutkan, menyimpulkan, menghakimi sesuka hati.
Sedangkan hatinya… selalu berkata sebaliknya.
Dan di situlah manusia munafik itu berubah menjadi manusia yang kebingungan.

Lalu bagaimana ia melewati malam-malamnya?
Sederhana.
Candu nikotin.
Sesekali alkohol.

Ya, itu bukan penyelesaian.
Dia pun tahu itu.
Namun sedikit racun kadang cukup untuk menenangkan.
Cukup untuk meredam keramaian di dalam kepalanya sendiri.
Cukup untuk membawanya ke pembaringan.
Cukup untuk membuatnya terlelap, walau hanya sementara.

Dan ketika pagi kembali datang, lingkaran itu akan terus berulang.
Dia akan kembali memakai wajah yang sama.
Kembali berjalan seperti manusia normal.
Kembali berpura-pura hidup sepenuhnya.

Padahal sebenarnya,
dia hanyalah manusia setengah hidup.
Dan manusia setengah hidup itu…
adalah AKU

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *