Sastra

Rumahku Rumahmu

Saat tatapku mendalam justru kau menatap dengan kaku
Saat membahas beberapa hal rautmu mulai gusar
Entah kebelet buang air besar atau memang pergi setiap menghadapi hal besar

Kau sudah mengerti jalan masuk ke rumahku begitu pun aku.
Bermula dari teras, ruang tamu, hingga dapurmu
Kau bilang rumahku ini terlalu nyaman dan siap untuk dihias
“Yaaah begitulah… Dulu sempat hancur tak karuan.. Tapi aku berusaha membangunnya”
Ujarku sembari membagikan keresahanku

Sedangkan bagimu, rumahmu sederhana,
dan belum terpikir untuk kau perbaiki bagian rusaknya

Aku berusaha mengingatkan dengan tenang,
“Rumahmu cukup nyaman, Aku ingin jujur…ada kerusakan di kamar tidur dan dapurmu. Di awal pertemuan, kau bilang kau akan berusaha memperbaikinya bukan? “
“Tidak, aku masih nyaman seperti ini. Biarkan saja reyot dan bocor dimana-mana”
“Tapi kita perlu tidur dengan nyenyak, juga bersenda gurau dengan menyenangkan berdua. Dengan aman”

Kau pun membuatku semakin meragu
“Tapi, aku sedang ingin memperindah ruang tamuku. Banyak keluarga dan temanku yang harus kubuat senang di ruang tamuku ini. Oh iya aku akan beli penghangat ruangan untuk ruang tamuku”
“Bagaimana denganmu… dan dengan kita?”
“Setidaknya kau selalu kulindungi dari cipratan tempias itu. Hanya itu yang ku mampu”
“Mengapa tidak kau perbaiki dulu atap kamarmu? Dan juga dapurmu, agar kau bisa memasak sendiri, selain menyantap rantang dari mereka”
“Duh… Gak tau, ya. Aku nyaman dan selalu berlindung di ruang tamu. Jangan ke ruang tamu dulu ya, aku sibuk mengurus keluargaku. Kamu bisa kembali ke ruang tamuku jika mereka sudah tidak berkunjung”
“Bagaimana dengan aku? “
“Kabari saja jika hujan akan tiba dan tetes hujan berdatangan, aku akan kembali padamu… Sesempatku”

Aku pun pergi dari kamar bocor itu, dan kembali ke rumahku sendiri yang siap aku hias sepenuh hati. Bukan kapasitasku menjadi kuli bangunan, pun empunya merawat dengan enggan.

Semoga manusia-manusia di luar sana nyaman untuk memilah sebelum memilih..
Saling sadar, bukan sebatas sabar.
Saling memperbaiki, bukan sebatas merasa bersalah.
Saling memilih keterbukaan, bukan sebatas kejujuran.

Jakarta, 17 Oktober 2025

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *