Sastra

Wudhu

Pada waktu Zuhur,
aku bersegera menuju rumah ibadah
setelah selesai menyantap rezeki siang hari.

Tiada firasat buruk di dalam dada,
sebab semua itu hanyalah rutinitas
yang kulakukan semenjak aku mengenal
jalan hidup yang diperintahkan-Nya.

Maka kulepaskan alas kakiku,
dan aku pun hendak menyucikan diri dengan air wudhu.

Namun lantai itu licin,
dan tubuhku pun terjatuh.
Kepalaku terbentur keras,
hingga nyeri menjalar ke seluruh tubuhku.

Akan tetapi muazin telah mengumandangkan iqamah,
maka tetap kupaksakan diriku berdiri di saf
untuk menunaikan salat Zuhur.

Segala sesuatu berjalan sebagaimana biasanya.
Aku bertakbir.
Aku rukuk.
Aku bersujud.

Hingga setelah salam terakhir terucap,
tubuhku mendadak kaku.

Dan aku melihat diriku sendiri
terbaring di atas sajadah masjid.

Maka barulah kusadari:

wudhu itu
adalah wudhu terakhirku,

dan Zuhur itu
adalah salat terakhirku.

Like 1
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *