Sastra

Si Pemberontak dari TK – Part 1

Aku memang tidak banyak mengingat kisah-kisah kecil dalam hidupku. Namun, ada beberapa kenangan yang masih membekas, bahkan terasa pahit setiap kali kubuka kembali. Kali ini, aku ingin menceritakan salah satunya—masa yang dipenuhi kepahitan, kesedihan, sekaligus sebersit kebanggaan.

Saat itu usiaku baru menginjak lima tahun. Ibu memasukkanku ke sebuah taman kanak-kanak yang letaknya tidak jauh dari rumah. Alasannya sederhana: agar aku tidak hanya menghabiskan waktu untuk bermain. Beliau ingin aku mulai belajar mengenal dunia di luar rumah sebelum akhirnya memasuki jenjang sekolah dasar.

Aku menyukai lingkungan baru itu. Ada banyak anak yang ceria, meski tidak sedikit pula yang bersikap songong. Namun, di mata para guru, aku bukanlah murid yang penurut. Aku cukup sering terlibat perkelahian dengan teman-teman sekelas. Mungkin karena aku terlalu mudah terpancing emosi, atau mungkin karena sejak kecil aku tidak pernah bisa diam ketika merasa diperlakukan semena-mena. Entahlah. Yang jelas, namaku cukup akrab di telinga para guru setiap kali terjadi keributan.

Di antara mereka, ada seorang anak bernama Purnama yang paling tidak kusukai. Kami hampir selalu terlibat cekcok. Tubuhnya gempal, sedangkan aku kecil. Namun, ukuran tubuh tidak pernah membuatku gentar. Aku selalu percaya bahwa jika seseorang menindasku, aku harus melawan. Sebab, sekecil apapun perlawanan, tetaplah sebuah perlawanan.

Entah sudah berapa kali aku terlibat cekcok dengannya. Rasanya terlalu sering untuk dihitung. Namun, ada satu kejadian yang masih kuingat dengan jelas.

Hari itu aku membawa sebuah mobil-mobilan kecil, hadiah dari pamanku. Dengan bangga aku memperlihatkannya kepada teman-teman di kelas. Wajar saja, namanya juga anak kecil; sedikit-sedikit ingin pamer. Hahaha.

Di tengah keramaian, Purnama tiba-tiba merebut mobil itu dari tanganku. Mungkin ia iri, atau mungkin memang hanya ingin memilikinya. Apa pun alasannya, aku tidak tinggal diam. Itu adalah milikku, dan aku tidak akan membiarkan seseorang merampasnya begitu saja.

Sejak kecil aku memang tidak pernah menyukai sikap semacam itu. Merasa berhak mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Lucunya, kalau kuingat sekarang, tingkahnya seperti pejabat di sebuah negeri yang gemar merampas hak orang-orang kecil. Bedanya, yang satu berebut mobil-mobilan, yang satu berebut kehidupan.

Setelah kejadian itu, para guru segera melerai kami. Karena kami berada di kelas yang sama, tempat duduk kami dipisahkan sejauh mungkin—aku di sisi kanan kelas, sedangkan Purnama di sisi kiri. Mobil-mobilanku pun diamankan oleh guru. Mungkin agar aku bisa kembali fokus belajar, atau mungkin agar Purnama tidak punya kesempatan untuk merebutnya lagi.

Sepulang sekolah, ada satu hal yang selalu kuingat. Aku hampir selalu menjadi murid terakhir yang dijemput. Ayahku sering datang terlambat. Mungkin karena beliau harus mengantar kakakku ke sekolah lebih dulu, atau menyelesaikan urusan lain yang saat itu belum mampu kupahami.

Sebagai anak kecil, aku tentu merasa kesal. Ada kalanya aku berpikir seolah-olah diriku dianaktirikan. Duduk sendirian di depan kelas yang mulai sepi, melihat satu per satu teman pulang bersama orang tuanya, bukanlah perasaan yang menyenangkan.

Namun, ketika mengingatnya sekarang, aku menyadari bahwa pikiranku saat itu terlalu polos untuk memahami keadaan. Orang tuaku sedang berjuang dengan kesibukan mereka. Di tengah segala urusan yang harus diselesaikan, mereka tetap datang menjemputku. Dan hari ini aku mengerti, bahwa kehadiran mereka, meski terlambat, tetaplah sebuah bentuk kasih sayang yang tidak pernah benar-benar terlambat.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *