Populer

Kamu Tahu Gak Bos? “Kamu Banyak yang Gak Suka”

Teman sebenarnya tidak akan menikam dari belakang. Kalau mau di belakang, dia pasti pria hidung belang.
Jika kamu terkekang dan muak dengan keadaan, yang benar adalah tusuk dari depan!
​Aku jabarkan:
Ambil persiapan, tarik napas panjang,
tatap dengan tajam full ancaman,
lalu tusuklah dengan penuh kekuatan sampai endapan paling dalam!

​Kita berdiri cukup lama di ruang komunikasi.
Begitu pula rasa, hilang seperti eksekusi oleh milisi rambut panjang di lucuti teknologi informasi.
Lucu sekali, bukan memperbaiki, tapi menambah pusing situasi!
​Baiknya kita ciptakan gaya tutur yang bisa membuat kita akur,
bukan coba gonta-ganti alat ukur—itu terlihat ngelantur.
Tak akan berubah, karena kita tetap saja saling adu sangkur.

Tanpa curiga kita jadi nurut, terhanyut,
bahkan tak menuntut. Setelah itu, dahi mengkerut,emosi tersulut ketika tahu kita tetap jadi buntut.
​Aku bahas soal raja, ratu, pion yang selalu monoton.
Pandangan tak bergerak terpaku ke depan, lupa lihat spion.
Harus punya sikap jelas kayak beton, bukan kayak bunglon!
Kalian itu menanggung beban sebesar tronton,
jangan seperti danton
yang terlihat bloon:
punya masalah dengan satu orang, harus selesai dengan satu pleton!

​Jelas memang kalian manusia kecil yang berjiwa kerdil,
punya jabatan penuh dengan kejutan macam penjahat kelas teri.
Mau diskusi saja, butuh makan sana-sini,
hingga mencari di bawah troli.
Menariknya, kalian melakukan tanpa mengotori tangan kanan-kiri,
jadi yang kena getahnya adalah kawan sendiri.
Itu terjadi berulang kali.

​Ketika aku mau melakukan tugas yang bebas, lepas, penuh kreativitas, hilang seketika karena logika tanpa logistik.
Ini seperti barisan rudal balistik yang karismatik,
siap menghancurkan karakteristik orang dengan sifat picik.
​Kesalku sudah tak bisa kubendung, hingga membuatku rajin melamun.
Kalau aku tumpuk amarah ini sebesar gunung,
terlalu tinggi melambung, tak bisa kugapai walau harus memakai bantuan Si Pitung.

​Ini bagai sawah penuh hama.
Ku tak bisa menyebut nama,
karena aku diajari Mama, landasan utama adalah tata krama.
Jadi, yang kubisa hanya membuat rima
penuh makna, merana memang benar begitu adanya kisana.

​Aku ingin berkata kontradiksi, tapi banyak toleransi yang menjadi argumentasi, tidak demokrasi, oposisi fiksi, tripsi, nggak ada isi, jual gelar akademisi di semua sisi!
Ejakulasi membuat adiksi, gengsi menahan ereksi.
Aborsi banyak terjadi, melahap meditasi bagai senyawa migrasi, produksi infeksi bakteri yang hebat, membuat tubuh mati suri, depresi, pindah lain galaksi…
dan itu semua hanya ilusi.

Like 3
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *