Kabut selalu datang lebih awal ke desa itu.
Ia turun dari punggung bukit seperti seseorang yang tahu jalan pulang meski tidak pernah diberi petunjuk. Orang-orang desa sudah terbiasa. Mereka membuka jendela, menyapu halaman, menyiapkan kopi, lalu menjalani hari-hari yang hampir sama dengan hari sebelumnya.
Namun di atas bukit, berdiri sesuatu yang tidak pernah benar-benar menjadi biasa.
Sebuah pohon tua.
Daunnya tidak pernah gugur.
Orang-orang tua berkata pohon itu menyimpan harapan yang pernah diucapkan dengan sungguh-sungguh. Tidak ada yang bisa membuktikan cerita itu. Lucunya, semakin sedikit yang mempercayainya, semakin banyak yang diam-diam datang ke sana saat hidup mulai terasa terlalu berat.
Mungkin begitulah manusia.
Mereka menertawakan hal-hal yang diam-diam masih mereka harapkan.
Suatu senja, seorang pemuda mendaki bukit itu.
Ia membawa banyak pertanyaan.
Tentang mimpi yang tidak kunjung menjadi kenyataan.
Tentang masa depan yang terus menjauh setiap kali didekati.
Dan tentang seseorang yang telah pergi tanpa membawa penjelasan yang cukup.
Ia duduk di bawah pohon hingga matahari tenggelam.
Tidak ada mukjizat.
Tidak ada jawaban.
Hanya angin yang lewat tanpa merasa perlu menjelaskan apa pun.
Namun ketika malam tiba, pemuda itu pulang dengan hati yang sedikit lebih ringan.
Ironis sekali.
Ia datang mencari jawaban, tetapi pulang membawa ketenangan justru karena tidak menemukan apa-apa.
***
Tahun-tahun berlalu.
Pemuda itu tidak menjadi orang hebat.
Tidak ada buku yang ditulis tentang dirinya.
Tidak ada patung yang dibangun untuk mengenangnya.
Tidak ada dunia yang berubah karena keberadaannya.
Ia hanya hidup.
Dan ternyata hidup jauh lebih melelahkan daripada yang dibayangkannya saat muda.
Ia kehilangan beberapa mimpi.
Mendapatkan beberapa yang lain.
Mengejar banyak hal.
Lalu suatu hari menyadari bahwa sebagian besar hal yang dikejarnya ternyata tidak benar-benar ia inginkan.
Ironi berikutnya datang tanpa permisi:
Sering kali manusia baru tahu apa yang penting setelah menghabiskan terlalu banyak waktu mengejar yang tidak penting.
Suatu malam ia kembali ke bukit.
Pohon tua itu masih ada.
Kabut masih datang.
Hanya dirinya yang berubah.
Di bawah pohon itu duduk seorang anak laki-laki.
Tatapannya kosong.
Seperti seseorang yang sedang berbicara dengan kesedihannya sendiri.
Mereka duduk lama tanpa saling mengenal.
Kemudian anak itu bertanya:
“Apa semuanya akan baik-baik saja?”
Pemuda itu memandang lampu-lampu desa yang berkelip jauh di bawah.
“Aku tidak tahu.”
Jawaban itu terdengar kejam.
Tetapi justru itulah jawaban paling jujur yang pernah ia miliki.
Anak itu menunduk.
Lalu bertanya lagi.
“Kalau begitu bagaimana kau bisa tetap berjalan?”
Pemuda itu tersenyum kecil.
“Karena hari esok tetap datang, bahkan ketika aku tidak siap menyambutnya.”
Mereka berbicara tentang kehilangan.
Tentang seseorang yang tidak lagi ada.
Tentang harapan yang gagal.
Tentang kenangan yang menolak pergi.
“Aku takut melupakan,” kata anak itu.
Pemuda itu menggeleng.
“Tidak. Kau takut bahwa suatu hari nanti kenangan itu tidak lagi terasa sakit.”
Anak itu terdiam.
Karena ia tahu itu benar.
Dan disitulah letak ironi yang paling sunyi.
Kadang manusia mempertahankan lukanya bukan karena mereka menyukai rasa sakit.
Melainkan karena rasa sakit adalah satu-satunya bukti bahwa sesuatu pernah begitu berarti.
***
Malam semakin larut.
Angin bergerak di antara daun-daun pohon.
Pemuda itu teringat seseorang yang dahulu sangat penting dalam hidupnya.
Dulu ia menghabiskan bertahun-tahun mencoba melupakan.
Semakin keras ia berusaha, semakin kuat kenangan itu bertahan.
Lalu suatu hari ia lelah.
Ia berhenti melawan.
Dan justru saat itulah kenangan itu mulai tenang.
Seolah berkata:
“Aku tidak pernah meminta dihapus. Aku hanya ingin diberi tempat.”
itu membuatnya tersenyum.
Semakin keras sesuatu ditekan ke dasar hati, semakin kuat ia berusaha kembali ke permukaan.
***
Anak itu akhirnya bertanya:
“Apakah kehilangan itu akan hilang?”
Pemuda itu memandang pohon tua.
“Tidak.”
“Lalu apa gunanya waktu?”
“Waktu tidak menghapus kehilangan.”
Ia berhenti sejenak.
“Waktu hanya membuatmu cukup kuat untuk hidup berdampingan dengannya.”
Kabut turun perlahan.
Malam terasa semakin dingin.
Dan untuk pertama kalinya, pemuda itu menyadari sesuatu.
Selama ini ia mengira hidup adalah perjalanan menuju jawaban.
Padahal mungkin hidup lebih mirip perjalanan menuju penerimaan.
Karena ada pertanyaan yang tidak akan pernah selesai dijawab.
Mengapa seseorang datang lalu pergi?
Mengapa sebagian harapan tumbuh sementara yang lain mati sebelum sempat mekar?
Mengapa hati manusia mampu menyimpan begitu banyak hal yang tidak bisa kembali?
Tidak ada jawaban yang benar-benar memuaskan.
Namun anehnya, manusia tetap hidup.
***
Ketika anak itu pulang, pemuda itu tetap duduk sendirian.
Ia memandang langit.
Kemudian satu per satu paradoks kehidupan muncul dalam benaknya.
Manusia mengejar kebahagiaan seumur hidup, tetapi kebahagiaan sering datang saat mereka berhenti mengejarnya.
Manusia takut kehilangan, tetapi tanpa kehilangan mereka tidak akan pernah memahami nilai sebuah pertemuan.
Manusia ingin dicintai apa adanya, tetapi menghabiskan sebagian besar hidupnya berpura-pura menjadi seseorang yang lain.
Dan paradoks terbesar dari semuanya:
Manusia tahu bahwa hidup akan berakhir.
Namun justru karena itulah mereka terus bermimpi.
Seandainya hidup tidak terbatas, mungkin tidak ada yang berharga.
Tidak ada alasan untuk bergegas mencintai.
Tidak ada alasan untuk memeluk lebih erat.
Tidak ada alasan untuk berkata, “Aku senang kau ada.”
Karena selalu ada hari esok.
Namun hidup tidak memberi janji seperti itu.
Dan justru karena itulah setiap hari menjadi penting.
***
Pemuda itu akhirnya berdiri.
Kabut mulai menelan pohon tua di belakangnya.
Ia menuruni bukit perlahan.
Tidak lebih bijaksana daripada sebelumnya.
Tidak lebih kuat.
Tidak lebih bahagia.
Hanya sedikit lebih damai.
Karena ia akhirnya memahami sesuatu yang sederhana.
Tujuan hidup mungkin bukan menjadi utuh.
Mungkin tujuan hidup adalah belajar mencintai bagian-bagian diri yang tidak pernah utuh.
Belajar membawa luka tanpa menjadi luka.
Belajar membawa kenangan tanpa tinggal di dalamnya.
Belajar menerima bahwa beberapa cerita memang tidak ditulis untuk memiliki akhir yang rapi.
Dan saat lampu-lampu desa semakin dekat, sebuah pikiran terakhir muncul dalam benaknya.
Betapa ironisnya manusia.
Mereka menghabiskan masa muda dengan tergesa-gesa menuju masa depan.
Lalu menghabiskan masa dewasa dengan merindukan masa lalu.
Namun di antara dua kesalahan itu, mereka tetap menemukan alasan untuk tersenyum.
Mungkin itulah yang disebut hidup.
Tidak sempurna.
Tidak adil.
Tidak selalu masuk akal.
Tetapi tetap layak dijalani.