PopulerTeknologi & Bisnis

Imbas Trauma SMS Mama Minta Pulsa pada Kepercayaan Milenial ke E-Wallet

Saya tumbuh mendewasa dengan “trauma” SMS Mama Minta Pulsa. Dari sinilah kecurigaan terhadap dunia digital menebal.

Sebuah dunia yang memungkinkan hadiah mobil mewah datang melalui SMS tengah malam. Bahkan dari nomor yang tidak punya pulsa untuk menelpon balik.

Dampak trauma tersebut adalah trust issue terhadap pesatnya digitalisasi layanan keuangan. Yah, namanya juga “trauma”, turunannya kemana-mana.

Survei Jakpat “E-Wallet Consumer Pattern by Generation” yang dirilis tahun ini mewakili kesan saya sebagai generasi milenial. Laporan ini menyebutkan, milenial dan generasi x mengedepankan kemudahan pembayaran dan kepercayaan dalam memilih dompet elektronik yang digunakan.

Kata Jakpat, terdapat tiga pertimbangan utama bagi milenial sampai akhirnya memutuskan menggunakan e-wallet. Pertama, dompet elektronik dinilai sebagai aplikasi user friendly. Kedua, dianggap metode pembayaran yang mudah digunakan.

Aspek lain yang menjadi pertimbangan, yakni soal lisensi alias terdaftar secara resmi di OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Sejujurnya, saya mengamini tiga poin ini.

Bukan tanpa alasan generasi saya (baca: milenial) kadang rewel soal urusan lisensi OJK. Alasannya tergambar pada paragraf-paragraf awal tulisan ini, hehe.

Ya, kami besar pada era transisi dari uang fisik ke uang digital yang diwarnai kecurigaan “turun-temurun”. Mulai dari cerita rekan kerja yang rekeningnya jebol gara-gara SMS phishing, sampai grup WhatsApp keluarga yang isinya broadcast “awas modus penipuan terbaru”.

Kepercayaan menjadi barang mahal.

Namun, mungkin berbeda cerita dengan generasi z yang lahir sudah dikelilingi kode QR dan notifikasi push. Bagi mereka, mungkin aplikasi finansial tak lantas terasa seperti ancaman, melainkan sekadar fitur baru yang wajib dicoba duluan sebelum hype di FYP.

Gen z mungkin bisa tidur nyenyak setelah mengunduh aplikasi baru, terlebih kalau fiturnya “sat-set”. Tapi saya? Tak jarang harus membaca syarat dan ketentuan demi memastikan aplikasi tersebut tak sedang berencana menguras tabungan haji.

“Pengguna yang lebih tua (milenial dan gen x) lebih fokus kepada lisensi resmi, menunjukkan perhatian yang lebih besar terhadap keamanan dan keandalan aplikasi e-wallet,” demikian tulis Jakpat.

Meskipun penuh kecurigaan tetapi saya, dan mungkin jutaan kaum milenial dan gen x di luar sana, tetap saja mengunduh aplikasi e-wallet, sih. Memang ada semacam paradoks, sebab alasan “trustworthiness” tarik tambang dengan tawaran diskon cashback menu sarapan atau promo parkir atau diskon ongkos kirim.

Jadi, sebenarnya milenial bukan cuma butuh keamanan. Saya pribadi membutuhkan keamanan yang memberikan keuntungan finansial (nah!). Kalau hanya aman tapi enggak ada promonya tetap terasa kurang greget.

Namun di sisi lain, saya jadi mengerti bahwa pada akhirnya cara masing-masing generasi beradaptasi dalam hidup tentu berbeda-beda. Bagi teman-teman generasi z mungkin lebih pilih merayakan kecepatan karena waktu sangat berharga.

Sementara saya, WNI yang menuju usia kepala 4 ini, butuh merayakan keamanan. Sebab, saya tahu rasanya kehilangan sesuatu yang sudah dibangun susah payah cuma gara-gara SMS penipuan luck nut.

Like 2
Dislike 0
Shares:
1 Komentar
  • Sakha Sakha
    Sakha
    03/07/2026 at 10:52

    menarikkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk

    Reply
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *