Sastra

Inbox Kosong (Pesan dari Dunia Lain) Chapter 5

Beberapa detik berlalu, lalu pesan balasan masuk.

“Gue cuma orang yang butuh temen cerita. Lo nggak perlu tahu siapa gue. Gue cuma mau cerita aja, kalau lo nggak keberatan.”

Amara membaca pesan itu beberapa kali. Ia mengernyitkan dahi, berusaha menebak maksud di balik kata-kata sederhana itu. Ada sesuatu yang aneh, tetapi tidak mengancam. Hanya… rasa putus asa yang samar-samar terasa dari setiap hurufnya.

Amara melirik ke arah laptopnya. Deadline masih mengejarnya, tetapi otaknya terasa berat setelah seharian berkutat dengan kode. Ia memutuskan untuk merespons lagi, lebih karena rasa ingin tahu daripada niat untuk membantu.

“Mau cerita apaan?”

Layar ponselnya menyala kembali dengan cepat. Pengirim pesan itu tampaknya sedang menunggu balasannya.

“Makasih ya. Gue cuma mau cerita aja. Kadang gue ngerasa dunia ini sibuk banget buat dengerin orang kayak gue. Semua orang sibuk sama hidup mereka, termasuk gue sendiri. Tapi belakangan ini, gue ngerasa ada yang hilang. Kayak… bagian dari diri gue yang ketinggalan di suatu tempat.”

Amara membaca pesan itu dengan seksama. Ia menyesap kopi yang mulai mendingin sambil merenungkan isi pesan tersebut. Kata-kata itu terasa seperti menggambarkan sebagian kecil dari dirinya sendiri. Ia juga sering merasa dunia di sekitarnya bergerak terlalu cepat, sementara dirinya terjebak dalam rutinitas yang membosankan.

“Maksud lo, ada yang hilang gimana?” balas Amara akhirnya.

Jawaban dari pengirim pesan itu datang lebih lambat kali ini. Amara menggunakan waktu itu untuk kembali fokus ke laptopnya, mencoba menyelesaikan beberapa baris kode yang belum sempurna. Namun, pikirannya terusik oleh percakapan itu. Ia melirik ponselnya beberapa kali, hingga akhirnya notifikasi lain muncul.

“Gue nggak yakin. Tapi gue ngerasa, di suatu tempat, ada versi lain dari diri gue yang lebih bahagia. Versi yang nggak pernah bikin kesalahan, nggak kehilangan orang-orang penting. Kadang gue mikir, gimana kalau gue bisa ketemu sama versi itu?”

Amara terdiam. Kata-kata itu menggema di pikirannya, memunculkan bayangan tentang masa lalunya sendiri. Trauma yang selalu ia coba lupakan perlahan muncul ke permukaan, seperti air yang merembes dari celah kecil dinding. Namun, ia menepis perasaan itu, mencoba untuk tetap fokus pada percakapan ini tanpa terlalu terlibat secara emosional.

“Kenapa lo pilih gue buat cerita?” tanyanya.
“Karena lo bales pesan gue. Itu aja,” jawab pengirim pesan singkat.

Jawaban itu sederhana, tetapi terasa ganjil bagi Amara. Ia mencoba menepis kecurigaannya, tapi ada sesuatu yang membuatnya terusik. Dengan setengah hati, ia menaruh ponselnya di atas meja, lalu membuka buku “Anonymous” yang diberikan Bimo. Mata Amara memindai halaman pertama, namun pikirannya tetap tertuju pada pesan-pesan itu.

Di tengah keheningan malam, rasa penasaran mulai tumbuh. Pesan-pesan ini bukan sekadar keluhan biasa—Amara yakin ada sesuatu yang lebih besar yang tersembunyi di baliknya.

Malam itu, Amara duduk di meja kerjanya, mencoba membaca buku “Anonymous.” Namun pikirannya terus melayang ke pesan-pesan anonim itu. Ia mengingat bagaimana kalimat-kalimat sederhana dalam pesan tadi seakan menyentuh sesuatu yang sangat personal.

“Apakah mungkin dia tahu siapa gue?” pikir Amara, matanya tertuju pada halaman buku tanpa membaca kata-katanya. Ada sesuatu tentang cara pengirim pesan itu berbicara, yang terasa… familier. Namun, Amara tidak bisa mengingat siapa pun dari masa lalunya yang mungkin mengirim pesan seperti itu.

Ponselnya bergetar lagi. Pesan baru masuk.

“Apa lo percaya semua orang pantas dimaafin, termasuk gue?”
Amara mengetik balasan pelan-pelan. “Kayak apa, contohnya?”

Butuh waktu lebih lama sebelum balasan muncul, seakan pengirimnya ragu untuk menjawab.
“Gue pernah nyakitin orang. Gue nggak tahu mereka inget atau nggak, tapi gue selalu inget semuanya.”

Amara berhenti sejenak. Kata-kata itu membuat sesuatu bergolak dalam dirinya. Ia menarik napas panjang, mencoba untuk tetap netral.

“Soal apa?”
“Bisnis,” jawab pengirim. “Dulu gue pikir itu cuma urusan kerjaan biasa. Tapi sekarang, gue nggak yakin lagi.”

Amara memutar-mutar ponselnya di tangan. Ada sesuatu yang familiar dalam cara orang ini berbicara, tetapi ia tidak bisa langsung mengingatnya. Dengan perlahan, ia mulai menyadari bahwa mungkin, cerita ini bukan hanya soal si pengirim, tapi juga soal masa lalunya sendiri yang selama ini ia coba kubur.

Ia melirik buku “Anonymous” yang diberikan Bimo dan membuka halaman pertamanya. Kalimat pembuka di sana membuatnya berhenti: “Kadang, kebenaran adalah apa yang paling ingin kita sembunyikan dari diri kita sendiri.” Kalimat itu menggema dalam pikirannya, seolah-olah ditulis untuk dirinya sendiri. Amara menghela napas, menutup buku itu untuk sesaat, dan kembali menatap layar ponselnya. Pesan berikutnya baru saja masuk.

Tapi Amara sudah terlanjur hanyut ke dalam perasaan itu (lagi). Rasa gelisah yang entah dari mana asalnya, selalu saja menyelinap masuk tiap kali pikiran Amara penuh tentang banyak hal.

Amara membawa dirinya kembali terduduk di balkon apartemennya. Menatap kota yang ramai di depan matanya. Merogoh saku celananya dan meraih sebungkus rokok tak lupa dengan koreknya.

Dalam tiap sesapan, dengan segala pikiran, kegelisahan dan trauma yang ada, Amara kembali menyusuri kisah hidupnya 8 tahun yang lalu.
Amara hanyalah seorang mahasiswa biasa yang hidup di pinggiran kota. Ia tinggal di sebuah kamar kontrakan sempit, dengan dinding yang mulai mengelupas dan suara langkah kaki tetangga yang selalu terdengar dari lantai atas. Malam-malamnya sering dihabiskan dengan mengerjakan tugas kuliah atau menjaga warung kecil milik tantenya untuk mendapatkan uang tambahan. Hidupnya sederhana, tapi ia masih bisa menemukan sedikit kebahagiaan di tengah kesulitan.

Namun, segalanya berubah ketika tragedi itu terjadi.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *