Mengawini angan yang di lobotomi keadaan.
Dipaksa terbuai dalam buih-buih kecupan mesra dan manisnya.
Membuat pikiran ini terjerembab dalam jerami yang dipenuhi tumpukan jarum.
Hanya seuntai doa yang bisa membuatku mengambang di antara kubangan dosa.
Akan kutunggu waktunya mentari menari di atas wajahku yang berseri kembali menatap hari baru penuh arti. Tapi, bergelimang bunga di makamku mungkin bukanlah hal yang buruk.
Daripada menyaksikan teman-temanku berbangga sejenak dengan kemesraan pasangannya dengan air mata dan segelas pilu.
Melankolia ini kembali menghiasi wajahku yang sembab tanpa ada tangan lain yang membasuh.
Anganku hanya terpasung diantara lemari tua dengan jaring laba-laba di sekelilingnya.
Ingin menggeliat di antara cemburu dan sembilu tapi seolah realita memaksaku untuk tertegun tiada ampun.
Tapi sudahlah, aku hanya ingin tetap hidup seribu tahun lagi tanpa harus bertemu si binatang jalang.