Pasadena, 1994
Saat dunia menyaksikan
seorang lelaki mati dalam keadaan berdiri.
Ia tertunduk lesu
di hadapan puluhan ribu pasang mata.
Sang pahlawan,
yang dalam satu ayunan kaki
menjadi pemupus sebuah harapan.
Berlin, 2006
Sang pahlawan berubah menjadi aktor kekalahan.
Harga diri tercoreng
oleh satu ledakan emosi.
Ia kalah membawa pulang trofi,
namun tetap menggenggam
sesuatu yang ia anggap lebih layak dipertahankan
daripada citranya sendiri.
Baggio dan Zizou.
Dua pahlawan
yang dikenang bukan hanya karena kemenangan,
tetapi juga karena satu kesalahan
yang tak pernah selesai dibicarakan.
Itulah aku sekarang.
Saat aku melakukan kesalahan,
orang-orang akan lebih mudah mengingatnya
daripada seluruh kebaikan yang pernah kulakukan.
Tak ada yang mengenang penyelamatan Pagliuca,
ketenangan Taffarel,
ketangguhan Barthez,
atau kegemilangan Buffon
sepanjang hidup mereka.
Sebab dunia sering menyematkan kegagalan
di dada para pahlawan,
sementara kemenangan
perlahan menjadi kenangan.