Sastra

Senin

Gemuruh pagi hari, tangan kuras tenaga dari baju bergelantungan.
Cat tembok tidak pernah bosan menemani siulan.
Kadang hari ini lebih suntuk untuk memulai mengaduk penutup aurat.
Satu dari tujuh, aku lupa memilah bagian mana yang lebih akurat.
​Badan ini berat, bergerak lakukan kegiatan selanjutnya.
Diam sejenak, pikirkan apa yang terjadi di jalanan.

Aku pasrah, hari Senin akhirnya.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *