Malam ini
Malam ini kurasa sudah cukup
Sudah cukup bersenang-senang
sudah cukup bergelut dengan pikiran sendiri
sudah cukup mematikan akal dan rasionalitas demi sebuah perasaan yang tak pernah benar-benar memberi kepastian
tapi apa jawabannya?
Rupanya, hal-hal yang kubayangkan selama ini tak pernah sungguh-sungguh terlaksana
Aku dan kamu yang berusaha menjadi kita kini sepertinya hanya menyisakan aku
Tersisa semacam kepingan dari retakan kaca
pecahan yang berserakan di lantai kenyataan pecah karena tak sanggup menatap apa yang sesungguhnya ada
Dan kenyataan itu
mulai malam ini mengurung diriku
Aku terjebak di dalamnya
merenung
melamun
mengulang pertanyaan yang sama
tanpa henti
tanpa jeda
hingga malam kehilangan batasnya sendiri
Dan di dalam kurungan itu aku mendengar waktu berjalan perlahan
menyeret bunyi langkahnya di lorong-lorong yang sepi
Aku mencoba berdamai
tetapi bayangmu lebih dahulu datang duduk di kursi yang biasa kutinggalkan kosong
Ia tidak berkata apa-apa
Namun diamnya lebih gaduh daripada pasar yang penuh teriakan
lebih ramai daripada kepalaku sendiri yang tak kunjung selesai berdebat antara menerima atau kembali berharap
Aku mulai mengerti
barangkali yang paling sulit untuk dilepaskan bukanlah dirimu
melainkan diriku yang dahulu yang percaya segala jarak dapat ditempuh
segala tembok dapat diruntuhkan
dan segala cerita akan menemukan akhirnya yang baik
Malam semakin larut
Satu per satu angan yang kubangun memadamkan lampunya sendiri
Tak ada ledakan
tak ada suara runtuh
Hanya sunyi
Sunyi yang bekerja seperti hujan
mengikis perlahan dinding-dinding keyakinan
hingga yang tersisa hanyalah seorang manusia yang duduk sendirian di hadapan kenyataan
Dan untuk pertama kalinya
aku tidak lagi bertanya mengapa aku dan kamu gagal menjadi kita
Aku hanya memandang pecahan-pecahan itu
pecahan-pecahan yang masih memantulkan wajahku
kemudian kusadari
yang pecah bukanlah cinta
bukan pula harapan
Yang pecah adalah keyakinanku
bahwa dunia harus berjalan sesuai dengan apa yang kuinginkan