Kota sialan!
Bandung sungguh tak nyaman tanpamu, Nona.
Ragamu masih di kota ini.
Namun,
tidak dengan hatimu.
Namun,
tidak dengan kita.
Harap kutanam, sepah kupanen.
Siapalah aku berani melawan takdir?
Tanpa berizin, ditulisnya bahwa pada tanggal sekian, semua kan berakhir akibat ulah si bodoh ini.
Sungguh, aku muak menulis tentangmu!
Sungguh, aku muak berada di Bandung!
Dingin kota ini terus menyetubuhiku tanpa hangat pelukmu.
Bisakah aku menerjang semua tanpamu?
Bisakah kita kembali melaut bersama?
Dengan kapal yang sama.
Berlabuh di dermaga yang sama, tuk kemudian melepas sauh kembali berkelana.
Ah!
Memang dasar otak keparat ini!
Tak bisakkah kau sebagai bagian dari diriku berbaik hati barang sedetik?
Tolong.
Satu detik saja
Aku tak mau ingat.
Tolong.
Satu detik saja.
Begitu perih semua pengharapan.
Nona. Sekarang aku tak lagi mengenal diriku.
Bahagia tampak di permukaan.
Tak tampak palung sesal tergali tanpa pijakan.
Semua yang kamu lihat, semua palsu, Nona.
Samudera baru tlah tercipta. Begitu luas dan ganas ombaknya.
Siapalah aku berani melawan?
Sudahlah, bodoh.
Toh, perpisahan ini terjadi akibat ulah sang diri yang maha egois lagi maha jahat!
Sungguh, aku malu!
Ironi bertumpuk ironi. Cukup tentangmu, ini sudah pagi.
Terakhir,
sederhana harapku ditengah dera lara.
Semoga, pada satu masa, tak lagi kutulis tentangmu.
Semoga, pada satu masa, Bandung tak lagi memuakkan tanpamu.