Laut Bacan
tak lagi asin.
Ia berubah menjadi ruang sidang
tempat ombak saling menjadi saksi
atas rumah yang menggugat pintunya sendiri.
Aku melihat istana
bercermin pada kaca retak
yang pecah bukan dindingnya,
melainkan ingatannya.
Bukankah
dahulu setiap sengketa
berjalan melewati tikar.
Melewati petuah,
melewati bobato
yang suaranya lebih tua
daripada bunyi palu?
Aku melihat
sebuah organisasi
berjalan memakai jubah kesultanan.
Namun bayangannya
tak menemukan
jejak pelantikan.
Tak ada suara bobato
yang memecah pagi.
Tak ada ikrar,
yang disaksikan tanah.
Hanya kursi-kursi
yang mendadak menemukan tuannya,
seolah jabatan
jatuh dari langit
tanpa musyawarah.
Padahal
adat lahir dari mufakat yang panjang,
bukan dari tangan yang menunjuk dirinya sendiri.
Adat lahir
dari persetujuan
yang panjang
seperti akar beringin.
Lalu datanglah
anak-anak muda.
Semangat mereka
menyala.
Tetapi, api yang kehilangan arah
tak pernah memilih
apa yang akan dibakar.
Bukan karena muda
adalah kesalahan..
Melainkan
karena pengalaman
ditaruh di luar pintu,
sementara kebijaksanaan
dibiarkan duduk sendirian
di beranda usia.
Bukankah pohon tua
tak menghasilkan buah
untuk dipotong akarnya?
Bukankah..
keriput
adalah kitab
yang ditulis waktu?
Mengapa telinga
lebih percaya
pada langkah yang tergesa-gesah
daripada napas
yang telah berkali-kali
menyelamatkan adat?
Baronda
telah menjadi cerita,
padahal dahulu
ia adalah cara kampung bernapas.
Mereka lebih mengenal
layar yang menyala,
tetapi lupa bagaimana malam
dulu dijaga oleh persaudaraan.
Bahasa adat
tinggal bisik
yang tak lagi dikenali oleh cucu-cucu kampung.
Tarian.. menjadi hiburan.
Upacara.. menjadi jadwal.
Warisan.. menjadi pajangan.
Aku bertanya
kepada mahkota:
“Apakah engkau masih emas?”
Mahkota menjawab:
“Aku tetap emas,
yang berubah
adalah kepala-kepala
yang lupa beratku.”
Aku bertanya
kepada tanah Bacan:
“Siapa pemilik adat?”
Tanah tertawa
“Tak seorang pun.
Mereka hanya dititipi.”
ketika musyawarah dikalahkan gengsi,
ketika organisasi lebih sibuk mengurus jabatan
daripada menjaga martabat.
ketika orang tua
dipersilakan diam,
ketika anak muda
dipaksa merasa
sudah paling tahu.
Dan kelak, orang-orang akan datang memotret istana.
Mereka akan bertanya:
“Di mana adat itu?”
Dan, angin hanya menjawab
“Ia pernah hidup.
Sebelum manusia
lebih mencintai jabatan
daripada warisan.”