Sastra

Si Pemberontak dari TK – Part 2

Musibah paling berat yang pernah kualami terjadi ketika usiaku masih sangat belia. Sedikit saja nasib berpihak berbeda, mungkin aku harus menjalani sisa hidup dengan cacat permanen. Beruntung, dokter berhasil menyelamatkan bibirku dari luka yang hampir menambah panjang daftar kesuraman hidupku.

Saat itu aku masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Kami sedang bermain polisi dan maling. Aku tentu memilih menjadi maling. Bersama Ayi, teman sekelasku, aku berlari sekencang-kencangnya menghindari kejaran polisi-polisian.

Aku terus berlari sambil sesekali menoleh ke belakang, memastikan “polisi” belum berhasil menangkapku. Di sebuah tikungan, tanpa kusadari, sebuah gerobak bubur milik Mang Jali sedang mangkal tepat di depan jalur lariku. Pandanganku masih tertuju ke belakang. Ketika akhirnya aku menoleh ke depan, semuanya sudah terlambat.

Bruk!

Bibir mungilku menghantam sisi gerobak yang terbuat dari seng tua berkarat. Dalam sekejap, darah mengucur deras, begitu deras hingga dalam ingatanku menyerupai air yang jatuh dari Air Terjun Niagara. Orang-orang di sekitar langsung panik. Entah mereka takut aku kehabisan darah atau ngeri melihat bibir bagian atasku tersayat lembaran seng yang tajam.

Anehnya, aku sama sekali tidak merasa sakit. Aku bersumpah. Aku menangis bukan karena luka itu, melainkan karena panik melihat darah yang terus mengalir. Di dalam kepalaku yang masih kecil hanya ada satu ketakutan: bagaimana nanti jika ibu melihatku? Aku takut ayah akan menyalahkan ibu karena dianggap lalai menjagaku. Pikiran polos itu justru lebih menakutkan daripada luka yang menganga di bibirku.

Saking paniknya, aku bahkan memukul Mang Jali sambil menangis meminta pertanggungjawaban. Kalau mengingatnya sekarang, rasanya lucu juga. Anak kecil yang jelas-jelas menabrak gerobak orang, malah menuntut ganti rugi.

Beberapa ibu yang menyaksikan kejadian itu segera menggendongku menuju rumah Bu Vian, pemilik sekaligus kepala sekolah TK tempatku belajar. Ketika ibu melihatku bersimbah darah, wajahnya langsung berubah pucat. Kepanikan tergambar jelas di matanya. Ibu-ibu yang mengantarku segera menjelaskan bagaimana kecelakaan itu terjadi.

Di rumah Bu Vian, berbagai cara dilakukan sebagai pertolongan pertama. Bibirku lebih dulu ditaburi garam dengan harapan lukanya cepat menutup. Namun bagiku yang masih anak-anak, yang kurasakan hanya asin yang menyengat. Aku terus meludah karena tidak tahan.

Entah siapa yang mendapat ide berikutnya, bibirku kemudian ditaburi gula pasir. Bibirku seketika terasa seperti martabak setengah matang yang baru saja ditaburi gula di atas loyang panas. Karena menyukai rasa manis, bukannya membiarkan gula itu menempel pada luka, aku malah menjilat dan memasukkannya ke dalam mulut.

Seseorang segera menjitak pelan kepalaku.

“Jangan dimakan! Biarin aja, supaya lukanya cepat nutup.”

Namun, seperti kebanyakan anak kecil yang keras kepala, aku tidak menggubris nasehat itu. Gula itu tetap saja kuhabiskan sedikit demi sedikit.

Mungkin karena semua cara itu tidak berhasil menghadapi keras kepalaku, Bu Vian akhirnya memutuskan membawaku ke rumah sakit. Di sanalah dokter menjahit bibirku dan, tanpa kusadari saat itu, menyelamatkanku dari luka yang mungkin akan mengubah hidupku selamanya.

Sesampainya di rumah sakit, bibirku yang masih terbelah terus meneteskan darah. Tidak sederas sebelumnya, tetapi cukup untuk meninggalkan bercak-bercak merah di baju yang sudah basah oleh keringat. Aku hanya duduk menunggu namaku dipanggil. Anehnya, aku masih belum merasakan sakit. Mungkin tubuhku masih sibuk menahan syok.

Semuanya berubah ketika tanpa sengaja aku melihat pantulan bibirku sendiri. Barulah rasa ngilu itu datang. Seolah-olah otakku baru menyadari bahwa bibirku benar-benar robek.

Tak lama kemudian, namaku dipanggil.

Aku yang belum pernah menginjakkan kaki di rumah sakit langsung diliputi ketakutan. Kakiku seperti menolak melangkah masuk ke ruang tindakan. Aku menangis dan terus menggeleng. Seberapa pun ibu membujukku, aku tetap tidak mau masuk.

Akhirnya ibu menelpon ayah.

Begitu ayah datang, semua keberanianku menguap. Mau tidak mau, aku berjalan memasuki ruangan. Bukan karena tiba-tiba menjadi pemberani, melainkan karena aku jauh lebih takut kepada ayah daripada kepada dokter.

Di dalam ruangan, aku hanya bisa pasrah. Terserah apa yang akan dilakukan dokter terhadap bibirku.

Saat aku berbaring di atas ranjang pemeriksaan, dokter sempat bergumam bahwa menjahit bibir bukanlah pekerjaan yang mudah. Luka di bagian itu memang membutuhkan ketelitian agar bentuk bibir tetap rapi setelah sembuh.

Beberapa saat kemudian, suntikan bius ditusukkan ke bibirku. Anehnya, bagian itu hampir tidak terasa sakit. Aku sempat berpikir, “Oh, ternyata tidak semenakutkan yang kubayangkan.”

Aku salah besar.

Begitu jarum jahit mulai menembus bibirku, rasa sakit itu datang sekaligus. Aku menjerit sekencang-kencangnya. Ayah memegangi kedua kakiku agar tidak meronta, sementara ibu menggenggam erat kedua tanganku supaya aku tidak bergerak. Rasanya seperti sedang dipasung di atas ranjang.

Setelah semuanya selesai, aku keluar dari ruang tindakan dengan wajah meringis menahan nyeri. Kalau harus jujur, dijahit di bibir adalah salah satu rasa sakit yang paling kuingat sampai sekarang.

Sesampainya di rumah, kekhawatiranku sejak awal ternyata benar. Ayah memarahi ibu karena dianggap tidak becus mengawasiku. Padahal, kalau dipikir-pikir sekarang, penyebab semua itu adalah aku sendiri. Ibu sudah berkali-kali mengingatkanku agar tidak berlari-larian. Namun, dasar anak kecil yang keras kepala, setiap larangan justru terdengar seperti sebuah tantangan.

Selama beberapa hari berikutnya, aku hanya bisa makan bubur yang diseruput menggunakan sedotan. Aku tidak bisa mengunyah apa pun. Hidup terasa hambar karena harus berpisah sementara dengan makanan favoritku: sate.

Beberapa minggu kemudian, luka itu akhirnya sembuh. Perban boleh dilepas. Hasil jahitan dokter ternyata sangat rapi. Hanya ada tonjolan kecil menyerupai tompel di bibir atas, serta sebuah garis tipis yang menjadi batas antara kulit bibir asli dan bagian yang pernah ditarik kembali oleh jahitan.

Meski begitu, luka itu meninggalkan satu kenang-kenangan yang masih kubawa hingga sekarang.

Aku kesulitan mengucapkan huruf R dengan jelas. Bukan karena lidahku tidak bisa mengucapkannya sama sekali, melainkan karena bunyinya terdengar kurang tegas dibandingkan orang lain.

Like 1
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *