Sastra

Dengung Trauma Kuku Merah Kasablanka

Kuku Merah Kasablanka

Bibir cangkir kopi luwak di meja menjelang bibirku,
Kau sentuh gagangnya, sempurnalah bentuknya.
Kuku merah menyala di jarimu maniskan jumpa,
Menarik seluruh pikiran dari pahitnya kenyataan.

Tanpa teror masa lalu kuseruput kopi luwak ini,
Menikmati kedipmu yang menelan keruwetan jakarta.
Dan aku merasa waras di keriuhan kafe kasablanka,
Seperti saat senggama dengan pikiran penuh.

“Kasih tahu aku cara lidahmu bedakan rasa kopi,
dari cangkir ke cangkir tanpa menyebut alamat asal,”
Pintamu sebelum seseruput kopi terakhirku tandas.

“Pastinya tak seperti aku merasakan adamu,”
Sahutku usai kutelan lembut kental pahit di lidah
Dan kuyakinkan kau, rinduku ada dan nyata.

Dengung Trauma

Di bawah kabut langit lebam
Kita bicara lewat telepon genggam.
Kau sulam peri-peri kecil di warung kopi
Kuakrabkan telingamu dengan deru jalan raya.

Suaramu mengalir jadi arus sunyi,
Basah—resap di dada, turun ke ulu hati.
Sebab pertemuan tak mesti selalu nyata,
Maka cukup kuhadirkan kau di kepala.

Kucium bibirmu saat kaupikirkan bibir,
Kupeluk sukmamu saat kaurasakan hambar,
Kuserahkan hadirku saat kaujahit bengkak sepi.

Selamanya, kita berpura-pura saling lupa,
Sambil meredam dengung trauma di kepala,
Meski tanpa janji dan khianat masing-masing.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *