Ibu bukan hanya rahim,
Ia adalah peta yang tak pernah dicetak negara.
Di telapak tangannya,
Aku belajar arah tanpa kompas
Dan kalah tanpa harus dendam.
Cinta, kata orang, adalah janji.
Tapi ibu mengajarkanku:
Cinta adalah bangun paling pagi
Saat dunia masih menipu diri sendiri.
Ia tidak berbunga,
ia bekerja.
Perjalanan membuatku paham
Bahwa jauh bukan sekadar jarak,
Melainkan lupa yang dipelihara kota.
Di stasiun, doa ibu sering tertinggal
Di bangku kayu yang tak sempat kusebut namanya.
Aku berjalan menukar sunyi dengan upah,
Menjual waktu pada sistem
Yang tak pernah bertanya
Siapa yang menungguku pulang.
Sementara ibu
Terus menghafal wajahku
Dari ingatan yang mulai menua.
Cinta hari ini sering dirayakan
Dengan unggahan dan bunga palsu,
Tapi ibu tetap setia
Pada cinta yang tak viral:
Menunggu tanpa kepastian,
Mendoakan tanpa saksi.
Perjalanan ini tak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya terlambat mengerti
Bahwa cinta paling radikal
Adalah ibu
Yang bertahan
Tanpa tepuk tangan.
Halmahera Selatan, 8 Maret 2026