Candu Sengsara
telah kuteguk habis ludah sendiri
saat bibirku basah oleh air mata
di kedua kelopak mata lelahmu
dan lehermu lembap oleh peluhku.
malam di Jogja selalu melankolis
bagi pelancong pemburu kenangan.
tetapi tidak bagiku yang pernah runtuh
sebab canduku padamu lebih sengsara.
kau hadir tanpa belenggu jakarta
dan aku tak mencari kuil-kuil nurani
untuk lari dari dera nasib sialan ini.
di pelukmu aku tinggal, berumah,
tanpa menagih janji langit yang tertulis:
tanpa pengiyaan, matamu tersenyum.
Porsi Kewarasan
setahun mungkin terasa panjang dan puitis
bagi pecundang yang bersembunyi di balik mata
dan kita telah menata langkah tanpa kalender
sambil menakar porsi senyum setiap pagi.
sebelum hari berjalan, kubuka pintu balkon
biar aroma telor ceplok di wajan menguar ke udara.
“terima kasih untuk hari ini, telah menyiapkan
seporsi kewarasan untuk energi sepanjang hari.”
meski saat sore tiba dan kelelahan merayap
kamu mungkin ingin pergi, mungkin juga aku
tetapi pelukan kita kian malam semakin erat.
aku mencintaimu tanpa bumbu dan rempah,
karena aku mencintai diriku yang mencintaimu.
“kalau lelah bilang, ingat masa depan,” ucapmu.