Setiap malam, dia duduk di depan layar komputer, hanya ditemani suara ketikan jari-jarinya yang beradu dengan keyboard. Meski demikian, ada sisi lain dari Amara yang tidak banyak orang tahu. Sisi yang terkadang muncul saat dia benar-benar merasa nyaman, namun itu sangat jarang terjadi. Dalam kesendirian, dia memiliki banyak waktu untuk merenung dan memikirkan kembali tentang hidupnya. Ada saat-saat tertentu ketika dia merasa lelah dengan kehidupannya yang penuh rahasia ini. Namun, ketakutan dan keraguan selalu membuatnya kembali ke tempat yang sama: jauh dari perhatian orang lain.
Namun, hidup di kota besar dengan segala keterasingan yang ada juga memiliki konsekuensinya. Terkadang, di antara semua keterasingan itu, datanglah sebuah panggilan yang tidak bisa dihindari. Panggilan yang mungkin akan mengubah segala sesuatu dalam hidup Amara. Panggilan yang mungkin akan membawanya keluar dari bayang-bayang dan menghadapkan dirinya pada kenyataan yang selama ini dia coba hindari. Dan mungkin, saat itu tiba, rahasia besar yang tersembunyi di balik kehidupan Amara akan terungkap. Tapi untuk saat ini, dia tetap menjadi sosok yang penuh misteri, berjalan sendirian di dunia yang tak pernah peduli.
Di balkon apartemennya yang terletak di lantai tinggi, Amara duduk dengan tubuh terkulai lemas, seolah dunia luar dan dunia dalamnya sedang berada dalam jarak yang sangat jauh. Kota yang terbentang di bawah sana tampak seperti lautan cahaya yang tak pernah tidur. Lampu-lampu jalanan berkelip membentuk pola tak beraturan, sementara gedung-gedung pencakar langit berdiri kokoh dengan jendela-jendela yang berkilau seakan menyimpan cerita mereka sendiri. Udara malam terasa sejuk, namun tak mampu mengusir kegelisahan yang mengendap di dalam dadanya.
Sebuah rokok terjepit di jari tengah dan telunjuknya, asapnya mengepul perlahan menuju langit malam, hilang tanpa jejak. Setiap hisapan terasa seperti upaya sia-sia untuk meredakan perasaan yang membelit hatinya. Amara menatap kosong ke kejauhan, matanya tidak fokus pada satu titik. Begitu banyak pikiran yang menggelayuti kepalanya—entah itu tentang pekerjaan yang menumpuk, rasa ketakutan, atau trauma yang entah sampai kapan menghantuinya. Namun, perasaan gelisah yang ia rasakan malam ini entah karena apa. Semua terasa seperti sesuatu yang belum bisa ia pecahkan, sesuatu yang tersembunyi di balik setiap keraguan yang datang silih berganti.
Angin malam yang lembut menyapu wajahnya, membawa sedikit kesejukan, namun tetap saja tidak cukup untuk menenangkan pikirannya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mencari ketenangan yang sering kali ia temukan dalam kesunyian ini. Tapi malam ini, semuanya terasa berbeda. Ada ketidakpastian yang tak bisa ia jelaskan, seperti ada sesuatu yang akan datang—sebuah perubahan yang tak bisa ia hindari, meski ia tidak tahu apa itu.
Malam itu, di tengah-tengah keramaian kota yang tak pernah tidur, Amara merasa sepi. Meski ia dikelilingi oleh ribuan orang di dunia nyata, ada rasa terasing yang terus menggelayuti dirinya. Seperti ada jarak tak terlihat antara dirinya dan dunia di sekitarnya. Setiap keputusan yang ia buat terasa semakin membingungkan, dan setiap langkah yang diambil seolah membawa dirinya lebih jauh dari apa yang ia inginkan.
Dengan rokok yang hampir habis, Amara menatap langit malam yang mulai diselimuti awan. Ada rasa bingung yang melanda dirinya, sebuah perasaan bahwa sesuatu yang tak terduga akan datang menghampiri. Tapi apa itu? Dia tidak tahu. Ada sesuatu yang mengusik, seperti potongan-potongan teka-teki yang belum terpasang dengan sempurna.
Seiring waktu, rokok itu habis, tapi perasaan gelisah nya tetap ada, menggantung di udara seperti asap yang tak kunjung menghilang. Amara menutup mata sebentar, mencoba menenangkan pikiran yang semakin kacau. Namun, semakin ia berusaha, semakin kuat perasaan itu muncul—sebuah perasaan yang lebih besar dari sekadar kecemasan biasa. Apakah ini hanya ketegangan biasa yang datang dengan rutinitas hidup, atau ada sesuatu yang lebih dalam yang harus ia hadapi?
“Ting!”





