Sastra

Aku Menjelma Angin, Kau Menjadi Ingatan: Manual Sunyi yang Salah Cetak Sejak Dunia Dimulai.

Aku teringat catatan-catatan Soe Hok Gie—
‎tentang gunung yang lebih bersih dari parlemen,
‎tentang udara yang lebih setia dari partai-partai,
‎tentang kesepian seorang mahasiswa
‎yang mencintai negerinya dengan cara paling berbahaya:
‎mengkritiknya.

‎Setiap hari kami membaca Gie dan tan malaka di sela asap rokok
‎dan aroma robusta murah.
‎Kami percaya bahwa idealisme
‎bukan barang diskon akhir tahun.
‎Ia mahal,
‎dan seringkali harus dibayar dengan keterasingan.

‎Seorang kawan berdiri, suaranya pecah
‎seperti aspal dibelah demonstrasi.
‎Ia membaca sajak tentang buruh yang digaji doa,
‎tentang petani yang menanam janji
‎dan memanen utang,
‎tentang mahasiswa yang lebih hafal teori
‎daripada cara pulang tanpa dikejar aparat.

‎Kami bertepuk tangan
‎bukan untuk puisinya semata,
‎melainkan untuk keberanian tetap berdiri
‎di zaman ketika berdiri saja
‎sudah dianggap melawan.

‎Namun kebebasan rakyat
‎bukan pertunjukan satu malam.

‎Ia adalah api kecil
‎yang kami sembunyikan di saku jaket,
‎kami bawa ke kampus, ke pabrik, ke desa,
‎ke setiap ruang yang mencoba membungkam suara.

‎Di antara kursi-kursi kosong itu
‎aku melihat wajahmu.
‎Kau duduk sambil mencatat,
‎rambutmu jatuh seperti tirai yang menyembunyikan
‎separuh rahasia dunia.

‎Kita pernah berdebat tentang cinta
‎seolah ia cabang dari eksistensialisme—
‎tentang kebebasan memilih,
‎tentang tanggung jawab atas luka,
‎tentang manusia yang “dikutuk untuk bebas”
‎seperti kata Jean-Paul Sartre.

‎Kau bilang,
‎“Kalau begitu mencintai negeri ini juga pilihan.”

‎Aku mengangguk,
‎meski diam-diam merasa
‎ia lebih mirip takdir.

‎Di rak buku Areska,
‎kita pernah menemukan nama Leo Tolstoy
‎yang berbicara tentang cinta dan perlawanan tanpa kekerasan—
‎tentang kerajaan Tuhan yang tumbuh
‎di dalam hati manusia sederhana.

‎Kita terdiam lama.
‎Sebab di luar sana,
‎kerajaan yang lain berdiri
‎dengan pagar kawat dan pasal-pasal.

‎“Bagaimana jika revolusi paling radikal
‎adalah mencintai tanpa memiliki?”
‎katamu suatu malam.

‎Aku tak menjawab.
‎Aku hanya menggenggam tanganmu
‎seperti menggenggam keyakinan
‎bahwa dunia bisa diubah
‎tanpa harus membencinya.

‎Di meja yang sama
‎kami pernah membahas Karl Marx,
‎tentang kelas dan pertarungan yang tak selesai.
‎Tentang sejarah yang bergerak
‎karena perut lapar lebih fasih
‎daripada pidato kenegaraan.

‎Namun kau menyelipkan nama lain—
‎Søren Kierkegaard—
‎tentang lompatan iman,
‎tentang keberanian berdiri sendiri
‎di hadapan Tuhan dan kegelisahan.

‎Romantisme kita bukan sekadar
‎tentang tangan yang saling menggenggam,
‎melainkan tentang dua kepala keras
‎yang sama-sama ingin dunia lebih adil.

‎Kita jatuh cinta
‎di antara selebaran aksi dan kutipan filsafat.
‎Kita belajar bahwa revolusi
‎bisa tumbuh dari percakapan pelan
‎di sudut kedai kopi.

‎Kini areska di penghujung tutup.
‎Tapi kenangan tak bisa diusir oleh kenaikan sewa.

‎Aku berdiri di panggung terakhir ini,
‎membacakan sajak
‎tentangmu, tentang rakyat,
‎tentang negeri yang kita cintai
‎dengan cara yang sering membuatnya marah.

‎Jika suatu hari kau bertanya
‎apa arti semua ini—
‎diskusi panjang, aksi yang melelahkan,
‎cinta yang terombang-ambing—

‎aku akan menjawab:
‎Ini adalah cara kita
‎menjadi manusia seutuhnya.

Like 2
Dislike 0
Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *