Aku mengetuk sebuah pintu
dari tempat yang jauh kutempuh,
melewati musim demi musim,
mengumpulkan jejak dan cerita yang tak mudah ditulis ulang.
Pintu itu besar,
terbuat dari kayu jati tua,
diukir rapi dengan cinta,
dari pohon yang dijaga sejak ia masih benih.
Aku mengetuk sebuah pintu
dan berdiri dalam rintik yang turun pelan.
Tubuhku menggigil,
tapi tekadku tetap hangat.
Di saat seperti itu,
aku sempat bertanya:
Untuk apa?
Untuk apa aku datang sejauh ini—
menukar waktu yang tak bisa kembali?
Kantong kain kusam kugenggam erat,
tapi aku lupa membawa ponselku.
Apa perlu kuputar langkah?
Menapaki lagi jejak yang telah kutinggalkan?
Namun aku sudah terlalu letih—
berjalan pun rasanya tak sanggup lagi.
Aku kembali mengetuk.
Satu… dua… tiga kali.
Masih tak ada jawaban.
Namun tak ada marah, hanya diam yang menguatkan.
Anehnya,
meski kedinginan dan angin menusuk dada,
tempat itu meneduhkan.
Hujan telah reda,
dan langit seolah menatapku dalam diam.
Aku pun duduk di anak tangga,
membuka kantong yang kubawa:
di dalamnya ada sebuah action figure kuning,
berhala kecil yang bisa menyalakan api.
Ia teman setiaku,
saksi bisu perjalanan panjang
yang tak selalu kukisahkan.
Aku kembali menatap pintu itu.
Tak peduli berapa lama lagi kutunggu,
aku tetap ingin.
Dan aku masih ingin masuk ke dalamnya.
Lelah merayap pelan,
hingga aku pun terlelap.
Beberapa jam terlewat,
dan akhirnya—pintu itu terbuka.
Aku berdiri tergopoh,
menatap ruang yang dulu hanya kubayangkan.
Dengan senyum sederhana, aku berkata:
“Aku sudah sampai.”
Dan saat pintu itu terbuka,
bukan hanya ruangan yang kutemui,
melainkan diriku sendiri—
yang tak lagi bertanya: “untuk apa?”
Aku telah datang,
membawa cahaya kecil dari sosok kuning itu,
yang tak hanya memberiku api,
tapi juga arti.
Sebab tak semua pintu harus diketuk dengan keras.
Beberapa cukup didatangi,
duduk dengan sabar di depannya,
hingga akhirnya… ia menyambutmu pulang.





